Sabtu, 18 Juli 2026

TBM Akhyar Center Perkuat Komitmen Menuju Perpustakaan Berkualitas

 


Prabumulih – Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center mengikuti Sosialisasi Advokasi dan Akreditasi Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Prabumulih. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pengelola perpustakaan dan taman bacaan masyarakat dalam mewujudkan layanan yang berkualitas sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan.

Sosialisasi diikuti oleh pengelola perpustakaan dari berbagai institusi, termasuk perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus, dan taman bacaan masyarakat. Kegiatan ini menjadi forum berbagi informasi sekaligus memperkuat sinergi antarpegiat literasi di Kota Prabumulih.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya advokasi perpustakaan sebagai langkah strategis dalam memperkuat kelembagaan, meningkatkan mutu layanan, serta mempersiapkan proses akreditasi. Narasumber juga menjelaskan indikator penilaian dan berbagai aspek yang perlu dipenuhi agar perpustakaan mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Bagi TBM Akhyar Center, keikutsertaan dalam sosialisasi ini merupakan bentuk komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan taman bacaan masyarakat. Wawasan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan layanan yang lebih profesional, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Sebagai salah satu pusat kegiatan literasi masyarakat, TBM Akhyar Center meyakini bahwa perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang belajar, berdiskusi, berkarya, dan mengembangkan potensi masyarakat dari berbagai kalangan.

Melalui kegiatan ini, TBM Akhyar Center juga mengapresiasi komitmen Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Prabumulih yang terus melakukan pembinaan kepada pengelola perpustakaan dan taman bacaan masyarakat. Pendampingan seperti ini dinilai penting untuk mendorong peningkatan mutu layanan literasi secara berkelanjutan.

Ke depan, TBM Akhyar Center akan mengimplementasikan berbagai pengetahuan yang diperoleh dalam pengelolaan kelembagaan, peningkatan koleksi, pengembangan program literasi, serta pelayanan kepada masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya taman bacaan yang semakin aktif, inklusif, dan berkualitas.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas literasi, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun budaya baca yang kuat. Dengan sinergi yang terus terjalin, keberadaan taman bacaan masyarakat diharapkan semakin memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Melalui keikutsertaan dalam Sosialisasi Advokasi dan Akreditasi Perpustakaan, TBM Akhyar Center menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan budaya literasi di Kota Prabumulih. Semangat belajar, berkolaborasi, dan berinovasi akan terus menjadi landasan dalam menghadirkan layanan literasi yang berdampak bagi masyarakat luas.

Minggu, 12 Juli 2026

Trilogi Buku Karya Akhyar untuk Memperkuat Kualitas Pendidik



TBM Akhyar Center -  Akhyar menunjukkan dedikasi tinggi bagi dunia pendidikan melalui berbagai karya nyata. Beliau memimpin TBM Akhyar Center sebagai wadah literasi yang aktif dalam menyebarkan ilmu. Keberadaan pusat kegiatan belajar ini menjadi bukti nyata peran beliau dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Fokus utama beliau adalah menyediakan akses pengetahuan yang luas bagi seluruh lapisan warga.

Kepedulian terhadap profesi pendidik mendorong Akhyar untuk merangkum pengalamannya dalam sebuah karya tulis. Beliau menerbitkan sebuah trilogi buku yang menjadi panduan bagi guru di seluruh penjuru tanah air. Karya ini mencakup tiga judul utama yakni Guru Dedikatif, Guru Inovatif, dan Guru Inspiratif. Ketiga buku ini membahas dimensi berbeda dari peran seorang pengajar di kelas.

Buku pertama berjudul Guru Dedikatif mengupas tuntas tentang arti pengabdian bagi pendidik. Akhyar memaparkan bahwa komitmen menjadi fondasi utama dalam menghadapi setiap tantangan mengajar di sekolah. Fokus pembahasan buku ini terletak pada bagaimana guru tetap teguh menjaga semangat mengajar meski berada di tengah keterbatasan fasilitas. Setiap halaman buku ini mengajak Anda untuk merenungkan kembali alasan dalam memilih profesi sebagai guru.

Bagian kedua dari trilogi ini berjudul Guru Inovatif yang menyoroti pentingnya kreativitas dalam ruang kelas. Akhyar menjelaskan berbagai metode pengajaran baru agar materi yang disampaikan mudah diserap oleh siswa. Beliau menekankan bahwa guru harus beradaptasi dengan perubahan zaman melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Buku ini berfungsi sebagai panduan praktis bagi guru dalam merancang kurikulum yang menarik bagi peserta didik.

Trilogi ini dilengkapi dengan buku ketiga yang berjudul Guru Inspiratif untuk menutup rangkaian panduan tersebut. Akhyar menaruh perhatian besar pada kemampuan guru dalam memberikan pengaruh positif bagi perkembangan karakter siswa di masa depan. Beliau percaya bahwa seorang guru berperan mentransfer ilmu pengetahuan serta menanamkan nilai moral dan etika yang kuat. Buku ini memberikan banyak contoh mengenai cara menjadi sosok yang mampu memotivasi siswa untuk terus berkarya.

Penerbitan trilogi ini memberikan dampak positif bagi para pendidik yang tergabung dalam jaringan TBM Akhyar Center. Para guru kini memiliki referensi nyata dalam memperbaiki cara mereka mengajar dan berinteraksi dengan siswa di sekolah. Akhyar rutin mengadakan diskusi bedah buku untuk memperdalam pemahaman mengenai isi dari karya tersebut. Kegiatan ini membantu para pendidik saling berbagi pengalaman dan mencari solusi atas kendala yang dihadapi di lapangan.

Filosofi literasi yang tertuang dalam buku buku tersebut sejalan dengan visi TBM Akhyar Center dalam memajukan pendidikan. Akhyar ingin memastikan bahwa setiap orang mendapatkan akses ilmu yang berkualitas melalui budaya membaca yang kokoh. Beliau membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung antara rumah dan sekolah. Keberadaan buku ini memperkuat peran TBM sebagai pusat rujukan literasi bagi guru dan orang tua.

Kontribusi Akhyar dalam dunia literasi mendapat sambutan baik dari para penggiat pendidikan di berbagai daerah. Banyak guru yang merasa terbantu dengan ide ide praktis yang dituangkan dalam trilogi buku tersebut. Langkah ini merupakan wujud kepedulian beliau terhadap kualitas pendidikan yang lebih baik di masa depan. Beliau berharap karya tulisnya dapat menjadi sumber inspirasi bagi pendidik lain agar terus bergerak maju.

Perjalanan Akhyar dalam dunia literasi tidak berhenti pada peluncuran buku saja. Beliau terus mengamati perkembangan dunia pendidikan dan berusaha memberikan kontribusi melalui berbagai program TBM. Fokus utamanya tetap pada pengembangan kapasitas guru agar tercipta generasi muda yang cerdas dan berkarakter. Dedikasi ini mencerminkan semangat berbagi ilmu yang konsisten beliau lakukan setiap hari.


Akhyar Berbagi Strategi Literasi di Temu Pendidik Nusantara Pagar Alam





TBM Akhyar Center - Ketua TBM Akhyar Center hadir sebagai pembicara pada ajang Temu Pendidik Nusantara Kel XIII di Pagar Alam. Kehadiran beliau memberikan warna baru dalam diskusi mengenai literasi di daerah. Peserta menyambut hangat materi yang disampaikan karena relevan dengan tantangan pendidikan saat ini.

Dalam sesi tersebut, beliau menekankan pentingnya membangun budaya baca sejak dini. Akhyar menjelaskan bahwa buku harus menjadi teman akrab bagi anak remaja di rumah. Akses terhadap bahan bacaan berkualitas menjadi kunci utama untuk membuka wawasan mereka.

Beliau juga berbagi pengalaman nyata dalam mengelola taman bacaan selama ini. Tantangan terbesar bukan pada kurangnya minat, melainkan pada cara penyajian literasi yang kurang menarik. Strategi yang tepat akan membuat anak remaja merasa bahwa membaca adalah bagian dari gaya hidup.

Kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi poin penting yang beliau soroti. Guru dan orang tua perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas membaca. Beliau mengajak para pendidik untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan literasi yang menyenangkan.

Materi yang disampaikan juga menyentuh aspek penggunaan teknologi yang bijak. Akhyar mengingatkan bahwa gawai bisa menjadi pendukung literasi jika diarahkan dengan benar. Anak remaja membutuhkan pendampingan agar mereka mampu memilah informasi yang bermanfaat.

Diskusi interaktif terjadi saat sesi tanya jawab berlangsung dengan penuh semangat. Banyak pendidik yang menceritakan kendala mereka di lapangan saat membimbing anak remaja. Akhyar memberikan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para guru di sekolah masing masing.

Pengalaman beliau dalam mendampingi remaja menjadi nilai tambah dalam pemaparan tersebut. Beliau memahami bahwa pendekatan yang kaku tidak akan berhasil pada usia ini. Akhyar menyarankan untuk memberikan ruang bagi anak remaja dalam memilih bacaan mereka sendiri.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi pegiat literasi di Pagar Alam. Beliau berharap langkah kecil yang dimulai dari taman bacaan dapat membawa perubahan besar bagi pendidikan daerah. Semangat berbagi menjadi modal utama untuk terus bergerak maju ke depan.

Temu Pendidik Nusantara di Pagar Alam ditutup dengan komitmen bersama untuk meningkatkan literasi. Akhyar merasa puas karena banyak pendidik yang antusias untuk menerapkan ide tersebut. Langkah nyata setelah acara ini menjadi harapan bagi kemajuan anak bangsa di masa mendatang.

Minggu, 07 Juni 2026

Guru sebagai Narasumber dan Perancang Pembelajaran Literasi Anak yang Kreatif di Era Protean


TBM Akhyar Center - Perubahan peran guru dalam ekosistem pendidikan modern tidak lagi terbatas pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Guru kini dapat bertransformasi menjadi narasumber, perancang kegiatan, sekaligus penggerak literasi di komunitas. Pengalaman sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center menunjukkan bahwa praktik pembelajaran yang lahir dari kelas dapat berkembang menjadi model kegiatan literasi yang lebih luas dan berdampak bagi masyarakat.

Dalam berbagai kegiatan di komunitas literasi, saya sering diundang sebagai narasumber untuk merancang pembelajaran kreatif bagi anak-anak. Fokus utama bukan hanya pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga pada pembentukan cara berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran lingkungan. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami realitas, menafsirkan informasi, dan mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk kegiatan yang sering saya kembangkan adalah pembelajaran literasi berbasis pengalaman nyata. Anak-anak tidak hanya membaca teks, tetapi juga diajak mengamati lingkungan sekitar, berdiskusi tentang fenomena sosial, serta menulis kembali pengalaman mereka dalam bentuk cerita reflektif. Misalnya, dalam kegiatan literasi lingkungan, anak-anak diajak mengamati sungai, jalan raya, atau ruang publik, kemudian mendiskusikan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Dari sana, mereka belajar menghubungkan teks dengan konteks kehidupan nyata.

Peran sebagai narasumber dalam komunitas literasi juga menuntut kemampuan merancang kegiatan yang adaptif. Setiap komunitas memiliki karakteristik peserta yang berbeda, baik dari segi usia, latar belakang sosial, maupun tingkat literasi. Oleh karena itu, desain kegiatan harus fleksibel namun tetap memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Saya biasanya menggunakan pendekatan berbasis pertanyaan terbuka, diskusi reflektif, dan aktivitas kolaboratif agar peserta aktif membangun pemahaman mereka sendiri.

Tantangan utama dalam peran ini adalah menggeser paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pengalaman peserta. Banyak kegiatan literasi masih cenderung bersifat instruktif, di mana anak-anak hanya menerima informasi tanpa kesempatan untuk mengeksplorasi dan menafsirkan. Untuk mengatasi hal ini, saya merancang aktivitas yang memberi ruang bagi peserta untuk bertanya, mengamati, dan menyimpulkan sendiri hasil pembelajaran mereka.

Selain itu, keterbatasan sumber daya di komunitas literasi juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua kegiatan dapat didukung dengan media pembelajaran yang lengkap. Oleh karena itu, saya memanfaatkan pendekatan literasi kontekstual, yaitu menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar utama. Hal ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih relevan, tetapi juga lebih mudah diterapkan oleh komunitas dengan berbagai kondisi.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, kegiatan literasi ini juga menjadi sarana internalisasi nilai-nilai akhlak. Anak-anak diajak memahami pentingnya kejujuran dalam menyampaikan informasi, tanggung jawab dalam bertindak, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Dengan demikian, literasi tidak hanya menghasilkan kemampuan kognitif, tetapi juga membentuk karakter yang seimbang antara pengetahuan dan nilai moral.

Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa guru memiliki potensi besar untuk berkembang dalam karier protean, yaitu karier yang fleksibel, dinamis, dan terus berevolusi sesuai dengan pengalaman dan kontribusi nyata. Menulis, merancang kegiatan, dan menjadi narasumber merupakan bagian dari satu kesatuan peran yang saling menguatkan. Praktik di kelas menjadi dasar, sementara komunitas menjadi ruang perluasan dampak.

Pada akhirnya, transformasi guru menjadi narasumber dan perancang kegiatan literasi menunjukkan bahwa pembelajaran tidak memiliki batas ruang. Apa yang dimulai dari catatan sederhana di kelas dapat berkembang menjadi model pembelajaran kreatif yang menginspirasi banyak komunitas. Di titik inilah peran guru melampaui sekadar pengajar; ia menjadi arsitek pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir generasi muda dalam memahami dunia secara lebih kritis, reflektif, dan bermakna.

Selasa, 05 Mei 2026

TBM Akhyar Center sebagai Ruang Literasi yang Terhubung dengan Isu Pembangunan Lokal



TBM Akhyar Center - Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center selama ini menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar. Namun, saya mulai melihat tantangan yang cukup nyata, yaitu kegiatan literasi masih cenderung berfokus pada aktivitas membaca dan menulis secara umum tanpa keterhubungan yang kuat dengan realitas sosial di sekitar mereka. Anak-anak aktif dalam kegiatan literasi, tetapi belum banyak yang memahami bagaimana pengetahuan itu bisa terhubung dengan persoalan dan potensi daerahnya.

Kondisi ini menjadi penting untuk saya respon karena literasi sejatinya tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga kesadaran sosial. Di sekitar TBM, terdapat berbagai potensi lokal seperti usaha kecil, budaya membaca keluarga, serta aktivitas ekonomi berbasis komunitas. Namun, potensi tersebut belum banyak dijadikan sumber belajar yang bermakna bagi anak-anak.

Sebagai langkah awal, saya mengubah pendekatan kegiatan literasi di TBM. Saya mulai mengarahkan anak-anak untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga mengaitkan isi bacaan dengan kehidupan di sekitar mereka. Kami melakukan diskusi sederhana tentang lingkungan tempat tinggal, kemudian menghubungkannya dengan tema bacaan seperti kewirausahaan kecil, lingkungan hidup, dan kisah tokoh inspiratif lokal. Anak-anak juga diajak membuat catatan sederhana tentang apa yang mereka lihat di sekitar rumah dan lingkungan TBM.

Dalam proses ini, saya mulai melihat perubahan pola pikir mereka. Anak-anak tidak lagi hanya berbicara tentang isi buku, tetapi juga mulai membandingkan dan mengaitkannya dengan pengalaman nyata. Mereka mulai bertanya tentang usaha kecil di sekitar mereka, cara orang tua bekerja, dan bagaimana kegiatan literasi bisa bermanfaat bagi masyarakat. Beberapa bahkan mulai menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka.

Dampak yang mulai terlihat adalah tumbuhnya kesadaran bahwa literasi memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sosial. TBM tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang lingkungan dan masyarakat. Anak-anak mulai lebih peka terhadap potensi daerahnya sendiri, meskipun dalam skala sederhana.

Dari pengalaman ini saya merefleksikan bahwa literasi akan lebih bermakna jika dihubungkan dengan konteks lokal. Ketika anak-anak diajak membaca realitas di sekitarnya, mereka tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pembaca kehidupan. TBM Akhyar Center perlahan berkembang menjadi ruang yang tidak hanya membentuk kemampuan literasi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk memahami dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.

Ruang Musyawarah Literasi di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center



TBM Akhyar Center - Di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya sering menemui anak-anak dan remaja dengan latar minat yang sangat beragam. Ada yang antusias pada cerita fiksi, ada yang lebih suka komik, dan ada pula yang tertarik pada kegiatan menulis atau diskusi ringan. Pada awalnya, saya lebih banyak menentukan arah kegiatan agar waktu yang terbatas dapat berjalan efektif. Namun, pendekatan itu membuat ruang literasi terasa kurang hidup sebagai ruang tumbuhnya partisipasi dan dialog.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai mengubah cara mengelola kegiatan di TBM. Sebelum kegiatan dimulai, saya membuka ruang sederhana untuk musyawarah. Anak-anak diajak duduk melingkar dan menyampaikan ide kegiatan literasi yang ingin mereka lakukan. Setiap usulan tidak hanya diterima, tetapi juga diminta disertai alasan serta pertimbangan dampaknya bagi teman lain.

Pada tahap awal, proses ini berjalan cukup spontan. Banyak anak masih mengajukan keinginan secara individual tanpa mempertimbangkan kebutuhan bersama. Namun saya tidak langsung mengoreksi, melainkan mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti siapa yang akan terlibat, siapa yang mungkin kurang cocok, dan bagaimana agar semua bisa ikut berpartisipasi.

Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Anak-anak mulai belajar mendengarkan pendapat teman mereka. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada keinginan pribadi, tetapi mulai memikirkan kepentingan kelompok. Diskusi yang awalnya ramai tanpa arah, perlahan menjadi lebih terstruktur dan saling menghargai.

Dalam salah satu sesi, muncul berbagai usulan seperti membaca bersama, menulis cerita, hingga membuat ulasan buku. Setelah melalui diskusi, mereka menyepakati untuk menggabungkan beberapa kegiatan tersebut. Hasilnya adalah kegiatan membaca bersama yang dilanjutkan dengan menulis cerita berdasarkan bacaan, sehingga semua minat dapat terakomodasi secara seimbang.

Perubahan yang paling terasa adalah tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap kegiatan literasi. Anak-anak tidak lagi hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga ikut menentukan arah kegiatan. Mereka mulai memahami bahwa keputusan bersama membutuhkan proses mendengar, menimbang, dan menyepakati.

Saya melihat bahwa ruang TBM bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang sosial yang melatih kemampuan berpikir kritis dan berkomunikasi. Anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan hambatan, melainkan sumber kekayaan ide yang dapat diolah bersama.

Pengalaman ini juga memperkuat keyakinan saya bahwa literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis teks, tetapi juga kemampuan berinteraksi secara sehat dalam sebuah komunitas. Musyawarah sederhana di ruang TBM menjadi sarana pembelajaran sosial yang sangat bermakna.

Dari praktik ini saya merefleksikan bahwa Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center telah berkembang menjadi ruang belajar bersama yang hidup. Di dalamnya, setiap suara memiliki ruang untuk didengar, setiap ide memiliki peluang untuk dipertimbangkan, dan setiap anak belajar menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang adil dan bermakna.

Selasa, 21 April 2026

Menjaga Keberpihakan Anak melalui Literasi Kebersihan di Akhyar Center




TBM Akhyar Center - Upaya menanamkan kepedulian terhadap kebersihan dan masa depan anak terus dilakukan melalui pembelajaran yang bermakna dan kontekstual. Seorang guru Pendidikan Agama Islam yang juga pendiri Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center menginisiasi kegiatan literasi kebersihan yang terintegrasi antara pembelajaran di kelas dan aktivitas di taman bacaan. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa bahwa kebersihan bukan sekadar aturan sekolah, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial dan bekal kehidupan di masa depan.

Kegiatan diawali dengan refleksi sederhana mengenai pengalaman belajar yang paling bermakna bagi siswa. Mereka diminta menceritakan hal-hal yang membuat mereka nyaman belajar dan tantangan yang sering dihadapi di lingkungan sekolah. Dari refleksi tersebut, muncul kesadaran bahwa kebersihan ruang belajar dan lingkungan sekitar menjadi kebutuhan utama. Siswa menyadari bahwa lingkungan yang bersih membantu mereka belajar lebih fokus dan nyaman.

Selanjutnya, siswa diajak membaca cerita literasi tentang kepedulian terhadap lingkungan. Cerita tersebut menggambarkan sekelompok anak yang berinisiatif membersihkan ruang belajar bersama. Setelah membaca, siswa berdiskusi tentang dampak kebersihan terhadap kesehatan, kenyamanan, dan semangat belajar. Diskusi berlangsung aktif karena siswa mengaitkan cerita dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Pendekatan literasi kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata. Siswa bersama guru menyusun kegiatan menjaga kebersihan kelas dan ruang baca. Mereka membagi peran, membuat jadwal sederhana, dan menetapkan aturan bersama. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa di kelas, tetapi juga anak-anak yang datang ke Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center.

Di taman bacaan, siswa terlibat langsung menata buku, membersihkan rak, dan merapikan ruang baca. Mereka juga membuat pojok kebersihan sederhana sebagai pengingat bersama. Aktivitas ini dilakukan secara gotong royong sehingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap ruang belajar. Suasana taman bacaan menjadi lebih nyaman dan ramah bagi anak-anak.

Perubahan sikap siswa mulai terlihat setelah kegiatan berjalan. Mereka menjadi lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan tanpa harus diingatkan. Siswa juga mulai mengajak teman lain untuk menjaga kebersihan kelas. Kesadaran tersebut tumbuh dari pengalaman langsung, bukan sekadar instruksi guru.

Selain berdampak pada kebersihan, kegiatan ini juga menumbuhkan nilai tanggung jawab dan kerja sama. Siswa belajar bahwa kebersihan merupakan bagian dari kepedulian terhadap sesama. Lingkungan yang bersih memberikan manfaat bagi semua orang. Nilai-nilai ini sejalan dengan pembelajaran karakter dan literasi sosial.

Sebagai pendiri Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, penggagas kegiatan menegaskan bahwa literasi harus terhubung dengan tindakan nyata. Membaca cerita tentang kebersihan menjadi awal untuk membangun kebiasaan baik. Ketika siswa terlibat langsung, mereka memahami makna kebersihan secara lebih mendalam. Literasi pun berkembang menjadi gerakan sosial kecil di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya menjaga kebersihan dapat terus tumbuh sebagai bagian dari pembelajaran dan kehidupan sehari-hari. Sinergi antara sekolah dan Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center menjadi ruang kolaborasi yang mendorong siswa lebih peduli terhadap lingkungan. Upaya sederhana ini menjadi langkah nyata dalam menjaga keberpihakan pada anak dan mempersiapkan mereka menghadapi masa depan dengan sikap bertanggung jawab.

Sabtu, 18 April 2026

TBM Akhyar Center Ikuti Bimtek Komunitas Literasi yang Dibuka Langsung oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan di Palembang



TBM Akhyar Center - Taman Bacaan Masyarakat TBM Akhyar Center menjadi salah satu komunitas literasi yang mengikuti kegiatan Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi melalui Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi Kategori C yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan di Palembang pada 17–19 April 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas komunitas literasi dalam merancang program yang berdampak bagi masyarakat.

Kegiatan bimbingan teknis secara resmi dibuka langsung oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa komunitas literasi memiliki peran penting sebagai penggerak budaya baca dan peningkatan kecakapan literasi masyarakat di berbagai daerah.

Acara pembukaan diawali dengan pendaftaran ulang peserta, menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan ketua pelaksana, sambutan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, pembacaan doa, serta sesi foto bersama. Suasana pembukaan berlangsung khidmat sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar komunitas literasi yang hadir.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi kebijakan literasi di daerah yang disampaikan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Materi ini memberikan gambaran arah penguatan literasi serta peluang kolaborasi antara pemerintah dan komunitas literasi.

Kegiatan dilanjutkan dengan tes awal yang difasilitasi panitia untuk memetakan pemahaman peserta terkait pengelolaan komunitas literasi. Hasil tes ini menjadi dasar dalam menentukan strategi pembelajaran selama bimbingan teknis berlangsung.

Memasuki hari kedua, materi “Merancang Program Komunitas Literasi Berdampak” disampaikan oleh Umi Laila Sari. Peserta diajak mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, menyusun tujuan program, serta merancang kegiatan yang relevan dan berdampak nyata.

TBM Akhyar Center mengikuti setiap sesi dengan aktif, terutama saat praktik penyusunan program. Berbagai ide kegiatan dirancang, mulai dari penguatan literasi keluarga, kelas membaca anak, hingga kegiatan literasi berbasis komunitas yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi penulisan proposal kegiatan komunitas penggerak literasi oleh Elly Sumantri. Melalui bimbingan teknis ini, TBM Akhyar Center diharapkan mampu mengembangkan program literasi yang lebih terarah, inovatif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

© Copyright 2019-2026 TBM Akhyar Center | All Right Reserved