Minggu, 12 Juli 2026

Akhyar Berbagi Strategi Literasi di Temu Pendidik Nusantara Pagar Alam





TBM Akhyar Center - Ketua TBM Akhyar Center hadir sebagai pembicara pada ajang Temu Pendidik Nusantara Kel XIII di Pagar Alam. Kehadiran beliau memberikan warna baru dalam diskusi mengenai literasi di daerah. Peserta menyambut hangat materi yang disampaikan karena relevan dengan tantangan pendidikan saat ini.

Dalam sesi tersebut, beliau menekankan pentingnya membangun budaya baca sejak dini. Akhyar menjelaskan bahwa buku harus menjadi teman akrab bagi anak remaja di rumah. Akses terhadap bahan bacaan berkualitas menjadi kunci utama untuk membuka wawasan mereka.

Beliau juga berbagi pengalaman nyata dalam mengelola taman bacaan selama ini. Tantangan terbesar bukan pada kurangnya minat, melainkan pada cara penyajian literasi yang kurang menarik. Strategi yang tepat akan membuat anak remaja merasa bahwa membaca adalah bagian dari gaya hidup.

Kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi poin penting yang beliau soroti. Guru dan orang tua perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas membaca. Beliau mengajak para pendidik untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan literasi yang menyenangkan.

Materi yang disampaikan juga menyentuh aspek penggunaan teknologi yang bijak. Akhyar mengingatkan bahwa gawai bisa menjadi pendukung literasi jika diarahkan dengan benar. Anak remaja membutuhkan pendampingan agar mereka mampu memilah informasi yang bermanfaat.

Diskusi interaktif terjadi saat sesi tanya jawab berlangsung dengan penuh semangat. Banyak pendidik yang menceritakan kendala mereka di lapangan saat membimbing anak remaja. Akhyar memberikan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para guru di sekolah masing masing.

Pengalaman beliau dalam mendampingi remaja menjadi nilai tambah dalam pemaparan tersebut. Beliau memahami bahwa pendekatan yang kaku tidak akan berhasil pada usia ini. Akhyar menyarankan untuk memberikan ruang bagi anak remaja dalam memilih bacaan mereka sendiri.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi pegiat literasi di Pagar Alam. Beliau berharap langkah kecil yang dimulai dari taman bacaan dapat membawa perubahan besar bagi pendidikan daerah. Semangat berbagi menjadi modal utama untuk terus bergerak maju ke depan.

Temu Pendidik Nusantara di Pagar Alam ditutup dengan komitmen bersama untuk meningkatkan literasi. Akhyar merasa puas karena banyak pendidik yang antusias untuk menerapkan ide tersebut. Langkah nyata setelah acara ini menjadi harapan bagi kemajuan anak bangsa di masa mendatang.

Minggu, 07 Juni 2026

Guru sebagai Narasumber dan Perancang Pembelajaran Literasi Anak yang Kreatif di Era Protean


TBM Akhyar Center - Perubahan peran guru dalam ekosistem pendidikan modern tidak lagi terbatas pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Guru kini dapat bertransformasi menjadi narasumber, perancang kegiatan, sekaligus penggerak literasi di komunitas. Pengalaman sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center menunjukkan bahwa praktik pembelajaran yang lahir dari kelas dapat berkembang menjadi model kegiatan literasi yang lebih luas dan berdampak bagi masyarakat.

Dalam berbagai kegiatan di komunitas literasi, saya sering diundang sebagai narasumber untuk merancang pembelajaran kreatif bagi anak-anak. Fokus utama bukan hanya pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga pada pembentukan cara berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran lingkungan. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami realitas, menafsirkan informasi, dan mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk kegiatan yang sering saya kembangkan adalah pembelajaran literasi berbasis pengalaman nyata. Anak-anak tidak hanya membaca teks, tetapi juga diajak mengamati lingkungan sekitar, berdiskusi tentang fenomena sosial, serta menulis kembali pengalaman mereka dalam bentuk cerita reflektif. Misalnya, dalam kegiatan literasi lingkungan, anak-anak diajak mengamati sungai, jalan raya, atau ruang publik, kemudian mendiskusikan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Dari sana, mereka belajar menghubungkan teks dengan konteks kehidupan nyata.

Peran sebagai narasumber dalam komunitas literasi juga menuntut kemampuan merancang kegiatan yang adaptif. Setiap komunitas memiliki karakteristik peserta yang berbeda, baik dari segi usia, latar belakang sosial, maupun tingkat literasi. Oleh karena itu, desain kegiatan harus fleksibel namun tetap memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Saya biasanya menggunakan pendekatan berbasis pertanyaan terbuka, diskusi reflektif, dan aktivitas kolaboratif agar peserta aktif membangun pemahaman mereka sendiri.

Tantangan utama dalam peran ini adalah menggeser paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pengalaman peserta. Banyak kegiatan literasi masih cenderung bersifat instruktif, di mana anak-anak hanya menerima informasi tanpa kesempatan untuk mengeksplorasi dan menafsirkan. Untuk mengatasi hal ini, saya merancang aktivitas yang memberi ruang bagi peserta untuk bertanya, mengamati, dan menyimpulkan sendiri hasil pembelajaran mereka.

Selain itu, keterbatasan sumber daya di komunitas literasi juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua kegiatan dapat didukung dengan media pembelajaran yang lengkap. Oleh karena itu, saya memanfaatkan pendekatan literasi kontekstual, yaitu menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar utama. Hal ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih relevan, tetapi juga lebih mudah diterapkan oleh komunitas dengan berbagai kondisi.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, kegiatan literasi ini juga menjadi sarana internalisasi nilai-nilai akhlak. Anak-anak diajak memahami pentingnya kejujuran dalam menyampaikan informasi, tanggung jawab dalam bertindak, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Dengan demikian, literasi tidak hanya menghasilkan kemampuan kognitif, tetapi juga membentuk karakter yang seimbang antara pengetahuan dan nilai moral.

Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa guru memiliki potensi besar untuk berkembang dalam karier protean, yaitu karier yang fleksibel, dinamis, dan terus berevolusi sesuai dengan pengalaman dan kontribusi nyata. Menulis, merancang kegiatan, dan menjadi narasumber merupakan bagian dari satu kesatuan peran yang saling menguatkan. Praktik di kelas menjadi dasar, sementara komunitas menjadi ruang perluasan dampak.

Pada akhirnya, transformasi guru menjadi narasumber dan perancang kegiatan literasi menunjukkan bahwa pembelajaran tidak memiliki batas ruang. Apa yang dimulai dari catatan sederhana di kelas dapat berkembang menjadi model pembelajaran kreatif yang menginspirasi banyak komunitas. Di titik inilah peran guru melampaui sekadar pengajar; ia menjadi arsitek pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir generasi muda dalam memahami dunia secara lebih kritis, reflektif, dan bermakna.

Selasa, 05 Mei 2026

TBM Akhyar Center sebagai Ruang Literasi yang Terhubung dengan Isu Pembangunan Lokal



TBM Akhyar Center - Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center selama ini menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar. Namun, saya mulai melihat tantangan yang cukup nyata, yaitu kegiatan literasi masih cenderung berfokus pada aktivitas membaca dan menulis secara umum tanpa keterhubungan yang kuat dengan realitas sosial di sekitar mereka. Anak-anak aktif dalam kegiatan literasi, tetapi belum banyak yang memahami bagaimana pengetahuan itu bisa terhubung dengan persoalan dan potensi daerahnya.

Kondisi ini menjadi penting untuk saya respon karena literasi sejatinya tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga kesadaran sosial. Di sekitar TBM, terdapat berbagai potensi lokal seperti usaha kecil, budaya membaca keluarga, serta aktivitas ekonomi berbasis komunitas. Namun, potensi tersebut belum banyak dijadikan sumber belajar yang bermakna bagi anak-anak.

Sebagai langkah awal, saya mengubah pendekatan kegiatan literasi di TBM. Saya mulai mengarahkan anak-anak untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga mengaitkan isi bacaan dengan kehidupan di sekitar mereka. Kami melakukan diskusi sederhana tentang lingkungan tempat tinggal, kemudian menghubungkannya dengan tema bacaan seperti kewirausahaan kecil, lingkungan hidup, dan kisah tokoh inspiratif lokal. Anak-anak juga diajak membuat catatan sederhana tentang apa yang mereka lihat di sekitar rumah dan lingkungan TBM.

Dalam proses ini, saya mulai melihat perubahan pola pikir mereka. Anak-anak tidak lagi hanya berbicara tentang isi buku, tetapi juga mulai membandingkan dan mengaitkannya dengan pengalaman nyata. Mereka mulai bertanya tentang usaha kecil di sekitar mereka, cara orang tua bekerja, dan bagaimana kegiatan literasi bisa bermanfaat bagi masyarakat. Beberapa bahkan mulai menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka.

Dampak yang mulai terlihat adalah tumbuhnya kesadaran bahwa literasi memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sosial. TBM tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang lingkungan dan masyarakat. Anak-anak mulai lebih peka terhadap potensi daerahnya sendiri, meskipun dalam skala sederhana.

Dari pengalaman ini saya merefleksikan bahwa literasi akan lebih bermakna jika dihubungkan dengan konteks lokal. Ketika anak-anak diajak membaca realitas di sekitarnya, mereka tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pembaca kehidupan. TBM Akhyar Center perlahan berkembang menjadi ruang yang tidak hanya membentuk kemampuan literasi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk memahami dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.

© Copyright 2019-2026 TBM Akhyar Center | All Right Reserved