Selasa, 04 Agustus 2026

Aksi Nyata Mencegah Stunting Melalui Literasi Kesehatan Komunitas Dan Pendidikan Vokasi

 


 

PRABUMULIH - Angka stunting di Indonesia menunjukkan realitas yang menuntut tindakan segera. Kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis ini mengancam kualitas generasi penerus. Stunting menghambat perkembangan otak dan menurunkan kemampuan kognitif anak. Dampak jangka panjangnya memengaruhi produktivitas dan daya saing bangsa. Anda memiliki tanggung jawab untuk ikut menyelesaikan masalah ini. Upaya mewujudkan Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Pencegahan stunting menjadi subtema krusial yang harus dikomunikasikan secara efektif kepada publik. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Edukasi dan literasi kesehatan di tingkat akar rumput menentukan keberhasilan program ini. Anda dapat berperan sebagai agen perubahan dengan menyebarkan informasi kesehatan yang valid dan edukatif.

Literasi kesehatan masyarakat kita masih butuh peningkatan. Banyak orang tua belum memiliki pemahaman utuh tentang gizi seimbang. Praktik pemberian makan pada anak sering dipengaruhi oleh kebiasaan yang keliru. Anda sering menemukan ibu hamil yang enggan mengonsumsi tablet tambah darah. Kasus lain menunjukkan pemberian makanan pendamping ASI yang minim protein hewani. Ketidaktahuan ini memperbesar risiko stunting pada balita.

Pusat kegiatan literasi dan ruang baca komunitas dapat difungsikan sebagai pusat edukasi kesehatan. Anda bisa mengubah perpustakaan komunitas menjadi ruang diskusi bagi para ibu tentang kesehatan anak. Sediakan buku dan materi bacaan yang membahas nutrisi keluarga. Undang tenaga medis untuk memberikan sesi tanya jawab langsung. Pendekatan komunal ini membuat masyarakat lebih terbuka menerima informasi baru.

Sekolah kejuruan bidang keperawatan memiliki potensi besar sebagai mitra penggerak literasi kesehatan. Anda sebagai pendidik atau guru wali dapat merancang pembelajaran berbasis proyek untuk siswa vokasi. Tugaskan mereka untuk membuat kampanye cegah stunting di sekitar lingkungan sekolah atau pusat literasi. Proyek ini menuntut siswa mengaplikasikan teori medis ke dalam praktik nyata. Mereka belajar merumuskan solusi gizi yang tepat guna bagi masyarakat.

Anda dapat menyusun pedoman proyek yang spesifik. Arahkan siswa untuk memetakan kondisi kesehatan balita di satu kawasan tempat tinggal. Mereka mewawancarai orang tua dan mencatat pola makan anak sehari-hari. Siswa menganalisis data tersebut di ruang kelas. Mereka lalu menyusun rekomendasi perbaikan gizi yang disesuaikan dengan daya beli keluarga. Solusi ini menjadi sangat relevan dan mudah diterapkan.

Siswa dapat memproduksi media edukasi visual. Mereka bisa mendesain infografis atau panduan singkat tentang gizi anak. Penggunaan platform desain digital memungkinkan produksi materi yang profesional dan menarik. Anda bisa menyalurkan materi cetak ini melalui posyandu atau pusat bacaan komunitas. Visual yang jelas membantu masyarakat memahami informasi kesehatan dengan cepat.

Anda juga bisa mengarahkan siswa untuk menyelenggarakan demonstrasi memasak sehat. Kegiatan ini mengajarkan cara mengolah pangan lokal menjadi makanan bergizi tinggi. Telur, ikan sungai, dan hati ayam adalah sumber protein murah dan mudah didapat. Edukasi melalui praktik memasak memberikan pengalaman berharga. Para ibu bisa langsung meniru resep tersebut di dapur masing-masing.

Pencegahan stunting menuntut perhatian khusus pada seribu hari pertama kehidupan. Periode ini membentang sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Anda harus terus mengingatkan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin. Ibu hamil membutuhkan nutrisi optimal untuk mendukung pertumbuhan janin. Asupan gizi mutlak dipenuhi setiap hari.

Inisiasi menyusu dini dan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan adalah langkah esensial. Anda perlu memberikan dukungan nyata kepada ibu menyusui. Lingkungan keluarga harus menciptakan suasana yang nyaman dan bebas stres. Setelah enam bulan, anak mulai membutuhkan makanan pendamping. Anda harus menekankan kewajiban memasukkan protein hewani dalam porsi makan anak. Telur adalah pilihan paling praktis dan padat nutrisi.

Pemantauan pertumbuhan anak harus berjalan disiplin. Anda perlu mengajak para orang tua untuk rutin mengunjungi posyandu. Penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan anak memberikan data kurva pertumbuhan yang akurat. Deteksi dini terhadap perlambatan pertumbuhan memungkinkan tindakan medis segera. Langkah pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan panjang.

Kesehatan lingkungan dan sanitasi memegang peran vital. Infeksi berulang akibat lingkungan kotor menguras cadangan nutrisi anak. Anda harus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kebersihan diri. Pastikan ketersediaan air bersih dan pengelolaan jamban yang layak. Lingkungan bersih mendukung penyerapan nutrisi secara maksimal.

Kolaborasi menjadi kunci utama penyelesaian masalah gizi. Anda tidak bisa menyelesaikan tantangan ini sendirian. Libatkan tokoh masyarakat dan kader kesehatan desa dalam kampanye ini. Pesan kesehatan dari figur yang dikenal luas lebih mudah diterima warga. Bangun jaringan komunikasi yang kuat antara sekolah, komunitas literasi, dan puskesmas daerah.

Gunakan platform digital untuk memperluas jangkauan edukasi. Anda dapat membagikan praktik baik dan tips gizi melalui akun publik. Konten informatif akan menarik perhatian generasi muda calon orang tua. Membangun kesadaran mereka sejak dini adalah investasi jangka panjang yang krusial. Langkah ini terbukti efektif memutus rantai stunting di masa depan.

Pencegahan stunting adalah upaya mutlak untuk menyelamatkan masa depan bangsa. Setiap anak memiliki hak dasar untuk tumbuh sehat dan cerdas. Anda memiliki kapasitas mengubah kondisi lingkungan melalui edukasi yang tepat sasaran. Mari optimalkan peran dan profesi kita masing-masing. Jadikan literasi kesehatan sebagai pilar utama melawan stunting demi mewujudkan bangsa yang kuat dan mandiri.

 

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

 

Minggu, 26 Juli 2026

Dari TBM Akhyar Center untuk Peradaban, D.A. Akhyar Gaungkan Pentingnya Literasi Informasi

 


Prabumulih - Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya literasi melalui partisipasi aktif pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Prabumulih. Kegiatan yang berlangsung pada 23–24 Juli 2026 di Gedung Kesenian Rumah Dinas Wali Kota Prabumulih ini menghadirkan D.A. Akhyar, S.Ud., M.Pd., Gr. sebagai narasumber yang membawakan materi tentang pentingnya literasi informasi di era digital.

Dalam pemaparannya, D.A. Akhyar menegaskan bahwa literasi informasi merupakan keterampilan esensial abad ke-21. Masyarakat tidak cukup hanya mampu memperoleh informasi, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk menilai kredibilitas sumber, melakukan verifikasi, mengolah data secara kritis, serta menggunakan informasi secara etis dan bertanggung jawab.

Menurutnya, derasnya arus informasi di media digital membawa tantangan tersendiri. Kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, disinformasi, maupun informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, literasi informasi perlu menjadi gerakan bersama yang melibatkan perpustakaan, sekolah, komunitas, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat.

Melalui TBM Akhyar Center, D.A. Akhyar terus mendorong terciptanya ruang belajar yang inklusif dan berkelanjutan. TBM tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran masyarakat yang mendorong budaya diskusi, kreativitas, inovasi, serta peningkatan kecakapan literasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Selama dua hari pelaksanaan bimtek, peserta mengikuti berbagai sesi yang dikemas secara interaktif melalui diskusi, studi kasus, praktik evaluasi sumber informasi, serta simulasi verifikasi fakta. Pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang aplikatif sehingga peserta dapat langsung menerapkan kompetensi literasi informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Partisipasi TBM Akhyar Center dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperkuat ekosistem literasi di Kota Prabumulih. Kolaborasi antara pemerintah daerah, perpustakaan, komunitas literasi, dan masyarakat diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing.

Ke depan, TBM Akhyar Center akan terus mengembangkan berbagai program literasi yang tidak hanya berfokus pada budaya baca, tetapi juga pada penguatan literasi informasi, literasi digital, serta pengembangan kapasitas masyarakat agar mampu menghadapi tantangan era transformasi digital.

Melalui semangat kolaborasi dan pembelajaran sepanjang hayat, TBM Akhyar Center berharap dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat untuk belajar, berbagi, dan berkarya. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan fondasi dalam membangun peradaban yang berilmu, berkarakter, dan berkemajuan.

Sabtu, 18 Juli 2026

TBM Akhyar Center Perkuat Komitmen Menuju Perpustakaan Berkualitas

 


Prabumulih – Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center mengikuti Sosialisasi Advokasi dan Akreditasi Perpustakaan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Prabumulih. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pengelola perpustakaan dan taman bacaan masyarakat dalam mewujudkan layanan yang berkualitas sesuai dengan Standar Nasional Perpustakaan.

Sosialisasi diikuti oleh pengelola perpustakaan dari berbagai institusi, termasuk perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus, dan taman bacaan masyarakat. Kegiatan ini menjadi forum berbagi informasi sekaligus memperkuat sinergi antarpegiat literasi di Kota Prabumulih.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya advokasi perpustakaan sebagai langkah strategis dalam memperkuat kelembagaan, meningkatkan mutu layanan, serta mempersiapkan proses akreditasi. Narasumber juga menjelaskan indikator penilaian dan berbagai aspek yang perlu dipenuhi agar perpustakaan mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Bagi TBM Akhyar Center, keikutsertaan dalam sosialisasi ini merupakan bentuk komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan taman bacaan masyarakat. Wawasan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan layanan yang lebih profesional, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Sebagai salah satu pusat kegiatan literasi masyarakat, TBM Akhyar Center meyakini bahwa perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang belajar, berdiskusi, berkarya, dan mengembangkan potensi masyarakat dari berbagai kalangan.

Melalui kegiatan ini, TBM Akhyar Center juga mengapresiasi komitmen Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Prabumulih yang terus melakukan pembinaan kepada pengelola perpustakaan dan taman bacaan masyarakat. Pendampingan seperti ini dinilai penting untuk mendorong peningkatan mutu layanan literasi secara berkelanjutan.

Ke depan, TBM Akhyar Center akan mengimplementasikan berbagai pengetahuan yang diperoleh dalam pengelolaan kelembagaan, peningkatan koleksi, pengembangan program literasi, serta pelayanan kepada masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya taman bacaan yang semakin aktif, inklusif, dan berkualitas.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas literasi, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun budaya baca yang kuat. Dengan sinergi yang terus terjalin, keberadaan taman bacaan masyarakat diharapkan semakin memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Melalui keikutsertaan dalam Sosialisasi Advokasi dan Akreditasi Perpustakaan, TBM Akhyar Center menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan budaya literasi di Kota Prabumulih. Semangat belajar, berkolaborasi, dan berinovasi akan terus menjadi landasan dalam menghadirkan layanan literasi yang berdampak bagi masyarakat luas.

Minggu, 12 Juli 2026

Trilogi Buku Karya Akhyar untuk Memperkuat Kualitas Pendidik



TBM Akhyar Center -  Akhyar menunjukkan dedikasi tinggi bagi dunia pendidikan melalui berbagai karya nyata. Beliau memimpin TBM Akhyar Center sebagai wadah literasi yang aktif dalam menyebarkan ilmu. Keberadaan pusat kegiatan belajar ini menjadi bukti nyata peran beliau dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Fokus utama beliau adalah menyediakan akses pengetahuan yang luas bagi seluruh lapisan warga.

Kepedulian terhadap profesi pendidik mendorong Akhyar untuk merangkum pengalamannya dalam sebuah karya tulis. Beliau menerbitkan sebuah trilogi buku yang menjadi panduan bagi guru di seluruh penjuru tanah air. Karya ini mencakup tiga judul utama yakni Guru Dedikatif, Guru Inovatif, dan Guru Inspiratif. Ketiga buku ini membahas dimensi berbeda dari peran seorang pengajar di kelas.

Buku pertama berjudul Guru Dedikatif mengupas tuntas tentang arti pengabdian bagi pendidik. Akhyar memaparkan bahwa komitmen menjadi fondasi utama dalam menghadapi setiap tantangan mengajar di sekolah. Fokus pembahasan buku ini terletak pada bagaimana guru tetap teguh menjaga semangat mengajar meski berada di tengah keterbatasan fasilitas. Setiap halaman buku ini mengajak Anda untuk merenungkan kembali alasan dalam memilih profesi sebagai guru.

Bagian kedua dari trilogi ini berjudul Guru Inovatif yang menyoroti pentingnya kreativitas dalam ruang kelas. Akhyar menjelaskan berbagai metode pengajaran baru agar materi yang disampaikan mudah diserap oleh siswa. Beliau menekankan bahwa guru harus beradaptasi dengan perubahan zaman melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Buku ini berfungsi sebagai panduan praktis bagi guru dalam merancang kurikulum yang menarik bagi peserta didik.

Trilogi ini dilengkapi dengan buku ketiga yang berjudul Guru Inspiratif untuk menutup rangkaian panduan tersebut. Akhyar menaruh perhatian besar pada kemampuan guru dalam memberikan pengaruh positif bagi perkembangan karakter siswa di masa depan. Beliau percaya bahwa seorang guru berperan mentransfer ilmu pengetahuan serta menanamkan nilai moral dan etika yang kuat. Buku ini memberikan banyak contoh mengenai cara menjadi sosok yang mampu memotivasi siswa untuk terus berkarya.

Penerbitan trilogi ini memberikan dampak positif bagi para pendidik yang tergabung dalam jaringan TBM Akhyar Center. Para guru kini memiliki referensi nyata dalam memperbaiki cara mereka mengajar dan berinteraksi dengan siswa di sekolah. Akhyar rutin mengadakan diskusi bedah buku untuk memperdalam pemahaman mengenai isi dari karya tersebut. Kegiatan ini membantu para pendidik saling berbagi pengalaman dan mencari solusi atas kendala yang dihadapi di lapangan.

Filosofi literasi yang tertuang dalam buku buku tersebut sejalan dengan visi TBM Akhyar Center dalam memajukan pendidikan. Akhyar ingin memastikan bahwa setiap orang mendapatkan akses ilmu yang berkualitas melalui budaya membaca yang kokoh. Beliau membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung antara rumah dan sekolah. Keberadaan buku ini memperkuat peran TBM sebagai pusat rujukan literasi bagi guru dan orang tua.

Kontribusi Akhyar dalam dunia literasi mendapat sambutan baik dari para penggiat pendidikan di berbagai daerah. Banyak guru yang merasa terbantu dengan ide ide praktis yang dituangkan dalam trilogi buku tersebut. Langkah ini merupakan wujud kepedulian beliau terhadap kualitas pendidikan yang lebih baik di masa depan. Beliau berharap karya tulisnya dapat menjadi sumber inspirasi bagi pendidik lain agar terus bergerak maju.

Perjalanan Akhyar dalam dunia literasi tidak berhenti pada peluncuran buku saja. Beliau terus mengamati perkembangan dunia pendidikan dan berusaha memberikan kontribusi melalui berbagai program TBM. Fokus utamanya tetap pada pengembangan kapasitas guru agar tercipta generasi muda yang cerdas dan berkarakter. Dedikasi ini mencerminkan semangat berbagi ilmu yang konsisten beliau lakukan setiap hari.


Akhyar Berbagi Strategi Literasi di Temu Pendidik Nusantara Pagar Alam





TBM Akhyar Center - Ketua TBM Akhyar Center hadir sebagai pembicara pada ajang Temu Pendidik Nusantara Kel XIII di Pagar Alam. Kehadiran beliau memberikan warna baru dalam diskusi mengenai literasi di daerah. Peserta menyambut hangat materi yang disampaikan karena relevan dengan tantangan pendidikan saat ini.

Dalam sesi tersebut, beliau menekankan pentingnya membangun budaya baca sejak dini. Akhyar menjelaskan bahwa buku harus menjadi teman akrab bagi anak remaja di rumah. Akses terhadap bahan bacaan berkualitas menjadi kunci utama untuk membuka wawasan mereka.

Beliau juga berbagi pengalaman nyata dalam mengelola taman bacaan selama ini. Tantangan terbesar bukan pada kurangnya minat, melainkan pada cara penyajian literasi yang kurang menarik. Strategi yang tepat akan membuat anak remaja merasa bahwa membaca adalah bagian dari gaya hidup.

Kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi poin penting yang beliau soroti. Guru dan orang tua perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas membaca. Beliau mengajak para pendidik untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan literasi yang menyenangkan.

Materi yang disampaikan juga menyentuh aspek penggunaan teknologi yang bijak. Akhyar mengingatkan bahwa gawai bisa menjadi pendukung literasi jika diarahkan dengan benar. Anak remaja membutuhkan pendampingan agar mereka mampu memilah informasi yang bermanfaat.

Diskusi interaktif terjadi saat sesi tanya jawab berlangsung dengan penuh semangat. Banyak pendidik yang menceritakan kendala mereka di lapangan saat membimbing anak remaja. Akhyar memberikan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para guru di sekolah masing masing.

Pengalaman beliau dalam mendampingi remaja menjadi nilai tambah dalam pemaparan tersebut. Beliau memahami bahwa pendekatan yang kaku tidak akan berhasil pada usia ini. Akhyar menyarankan untuk memberikan ruang bagi anak remaja dalam memilih bacaan mereka sendiri.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi pegiat literasi di Pagar Alam. Beliau berharap langkah kecil yang dimulai dari taman bacaan dapat membawa perubahan besar bagi pendidikan daerah. Semangat berbagi menjadi modal utama untuk terus bergerak maju ke depan.

Temu Pendidik Nusantara di Pagar Alam ditutup dengan komitmen bersama untuk meningkatkan literasi. Akhyar merasa puas karena banyak pendidik yang antusias untuk menerapkan ide tersebut. Langkah nyata setelah acara ini menjadi harapan bagi kemajuan anak bangsa di masa mendatang.

Minggu, 07 Juni 2026

Guru sebagai Narasumber dan Perancang Pembelajaran Literasi Anak yang Kreatif di Era Protean


TBM Akhyar Center - Perubahan peran guru dalam ekosistem pendidikan modern tidak lagi terbatas pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Guru kini dapat bertransformasi menjadi narasumber, perancang kegiatan, sekaligus penggerak literasi di komunitas. Pengalaman sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center menunjukkan bahwa praktik pembelajaran yang lahir dari kelas dapat berkembang menjadi model kegiatan literasi yang lebih luas dan berdampak bagi masyarakat.

Dalam berbagai kegiatan di komunitas literasi, saya sering diundang sebagai narasumber untuk merancang pembelajaran kreatif bagi anak-anak. Fokus utama bukan hanya pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga pada pembentukan cara berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran lingkungan. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami realitas, menafsirkan informasi, dan mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk kegiatan yang sering saya kembangkan adalah pembelajaran literasi berbasis pengalaman nyata. Anak-anak tidak hanya membaca teks, tetapi juga diajak mengamati lingkungan sekitar, berdiskusi tentang fenomena sosial, serta menulis kembali pengalaman mereka dalam bentuk cerita reflektif. Misalnya, dalam kegiatan literasi lingkungan, anak-anak diajak mengamati sungai, jalan raya, atau ruang publik, kemudian mendiskusikan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Dari sana, mereka belajar menghubungkan teks dengan konteks kehidupan nyata.

Peran sebagai narasumber dalam komunitas literasi juga menuntut kemampuan merancang kegiatan yang adaptif. Setiap komunitas memiliki karakteristik peserta yang berbeda, baik dari segi usia, latar belakang sosial, maupun tingkat literasi. Oleh karena itu, desain kegiatan harus fleksibel namun tetap memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Saya biasanya menggunakan pendekatan berbasis pertanyaan terbuka, diskusi reflektif, dan aktivitas kolaboratif agar peserta aktif membangun pemahaman mereka sendiri.

Tantangan utama dalam peran ini adalah menggeser paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pengalaman peserta. Banyak kegiatan literasi masih cenderung bersifat instruktif, di mana anak-anak hanya menerima informasi tanpa kesempatan untuk mengeksplorasi dan menafsirkan. Untuk mengatasi hal ini, saya merancang aktivitas yang memberi ruang bagi peserta untuk bertanya, mengamati, dan menyimpulkan sendiri hasil pembelajaran mereka.

Selain itu, keterbatasan sumber daya di komunitas literasi juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua kegiatan dapat didukung dengan media pembelajaran yang lengkap. Oleh karena itu, saya memanfaatkan pendekatan literasi kontekstual, yaitu menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar utama. Hal ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih relevan, tetapi juga lebih mudah diterapkan oleh komunitas dengan berbagai kondisi.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, kegiatan literasi ini juga menjadi sarana internalisasi nilai-nilai akhlak. Anak-anak diajak memahami pentingnya kejujuran dalam menyampaikan informasi, tanggung jawab dalam bertindak, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Dengan demikian, literasi tidak hanya menghasilkan kemampuan kognitif, tetapi juga membentuk karakter yang seimbang antara pengetahuan dan nilai moral.

Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa guru memiliki potensi besar untuk berkembang dalam karier protean, yaitu karier yang fleksibel, dinamis, dan terus berevolusi sesuai dengan pengalaman dan kontribusi nyata. Menulis, merancang kegiatan, dan menjadi narasumber merupakan bagian dari satu kesatuan peran yang saling menguatkan. Praktik di kelas menjadi dasar, sementara komunitas menjadi ruang perluasan dampak.

Pada akhirnya, transformasi guru menjadi narasumber dan perancang kegiatan literasi menunjukkan bahwa pembelajaran tidak memiliki batas ruang. Apa yang dimulai dari catatan sederhana di kelas dapat berkembang menjadi model pembelajaran kreatif yang menginspirasi banyak komunitas. Di titik inilah peran guru melampaui sekadar pengajar; ia menjadi arsitek pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir generasi muda dalam memahami dunia secara lebih kritis, reflektif, dan bermakna.

Selasa, 05 Mei 2026

TBM Akhyar Center sebagai Ruang Literasi yang Terhubung dengan Isu Pembangunan Lokal



TBM Akhyar Center - Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center selama ini menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar. Namun, saya mulai melihat tantangan yang cukup nyata, yaitu kegiatan literasi masih cenderung berfokus pada aktivitas membaca dan menulis secara umum tanpa keterhubungan yang kuat dengan realitas sosial di sekitar mereka. Anak-anak aktif dalam kegiatan literasi, tetapi belum banyak yang memahami bagaimana pengetahuan itu bisa terhubung dengan persoalan dan potensi daerahnya.

Kondisi ini menjadi penting untuk saya respon karena literasi sejatinya tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga kesadaran sosial. Di sekitar TBM, terdapat berbagai potensi lokal seperti usaha kecil, budaya membaca keluarga, serta aktivitas ekonomi berbasis komunitas. Namun, potensi tersebut belum banyak dijadikan sumber belajar yang bermakna bagi anak-anak.

Sebagai langkah awal, saya mengubah pendekatan kegiatan literasi di TBM. Saya mulai mengarahkan anak-anak untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga mengaitkan isi bacaan dengan kehidupan di sekitar mereka. Kami melakukan diskusi sederhana tentang lingkungan tempat tinggal, kemudian menghubungkannya dengan tema bacaan seperti kewirausahaan kecil, lingkungan hidup, dan kisah tokoh inspiratif lokal. Anak-anak juga diajak membuat catatan sederhana tentang apa yang mereka lihat di sekitar rumah dan lingkungan TBM.

Dalam proses ini, saya mulai melihat perubahan pola pikir mereka. Anak-anak tidak lagi hanya berbicara tentang isi buku, tetapi juga mulai membandingkan dan mengaitkannya dengan pengalaman nyata. Mereka mulai bertanya tentang usaha kecil di sekitar mereka, cara orang tua bekerja, dan bagaimana kegiatan literasi bisa bermanfaat bagi masyarakat. Beberapa bahkan mulai menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka.

Dampak yang mulai terlihat adalah tumbuhnya kesadaran bahwa literasi memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sosial. TBM tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang lingkungan dan masyarakat. Anak-anak mulai lebih peka terhadap potensi daerahnya sendiri, meskipun dalam skala sederhana.

Dari pengalaman ini saya merefleksikan bahwa literasi akan lebih bermakna jika dihubungkan dengan konteks lokal. Ketika anak-anak diajak membaca realitas di sekitarnya, mereka tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pembaca kehidupan. TBM Akhyar Center perlahan berkembang menjadi ruang yang tidak hanya membentuk kemampuan literasi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk memahami dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.

Ruang Musyawarah Literasi di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center



TBM Akhyar Center - Di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya sering menemui anak-anak dan remaja dengan latar minat yang sangat beragam. Ada yang antusias pada cerita fiksi, ada yang lebih suka komik, dan ada pula yang tertarik pada kegiatan menulis atau diskusi ringan. Pada awalnya, saya lebih banyak menentukan arah kegiatan agar waktu yang terbatas dapat berjalan efektif. Namun, pendekatan itu membuat ruang literasi terasa kurang hidup sebagai ruang tumbuhnya partisipasi dan dialog.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai mengubah cara mengelola kegiatan di TBM. Sebelum kegiatan dimulai, saya membuka ruang sederhana untuk musyawarah. Anak-anak diajak duduk melingkar dan menyampaikan ide kegiatan literasi yang ingin mereka lakukan. Setiap usulan tidak hanya diterima, tetapi juga diminta disertai alasan serta pertimbangan dampaknya bagi teman lain.

Pada tahap awal, proses ini berjalan cukup spontan. Banyak anak masih mengajukan keinginan secara individual tanpa mempertimbangkan kebutuhan bersama. Namun saya tidak langsung mengoreksi, melainkan mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti siapa yang akan terlibat, siapa yang mungkin kurang cocok, dan bagaimana agar semua bisa ikut berpartisipasi.

Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Anak-anak mulai belajar mendengarkan pendapat teman mereka. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada keinginan pribadi, tetapi mulai memikirkan kepentingan kelompok. Diskusi yang awalnya ramai tanpa arah, perlahan menjadi lebih terstruktur dan saling menghargai.

Dalam salah satu sesi, muncul berbagai usulan seperti membaca bersama, menulis cerita, hingga membuat ulasan buku. Setelah melalui diskusi, mereka menyepakati untuk menggabungkan beberapa kegiatan tersebut. Hasilnya adalah kegiatan membaca bersama yang dilanjutkan dengan menulis cerita berdasarkan bacaan, sehingga semua minat dapat terakomodasi secara seimbang.

Perubahan yang paling terasa adalah tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap kegiatan literasi. Anak-anak tidak lagi hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga ikut menentukan arah kegiatan. Mereka mulai memahami bahwa keputusan bersama membutuhkan proses mendengar, menimbang, dan menyepakati.

Saya melihat bahwa ruang TBM bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang sosial yang melatih kemampuan berpikir kritis dan berkomunikasi. Anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan hambatan, melainkan sumber kekayaan ide yang dapat diolah bersama.

Pengalaman ini juga memperkuat keyakinan saya bahwa literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis teks, tetapi juga kemampuan berinteraksi secara sehat dalam sebuah komunitas. Musyawarah sederhana di ruang TBM menjadi sarana pembelajaran sosial yang sangat bermakna.

Dari praktik ini saya merefleksikan bahwa Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center telah berkembang menjadi ruang belajar bersama yang hidup. Di dalamnya, setiap suara memiliki ruang untuk didengar, setiap ide memiliki peluang untuk dipertimbangkan, dan setiap anak belajar menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang adil dan bermakna.

© Copyright 2019-2026 TBM Akhyar Center | All Right Reserved