TBM Akhyar Center - Di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya sering menemui anak-anak dan remaja dengan latar minat yang sangat beragam. Ada yang antusias pada cerita fiksi, ada yang lebih suka komik, dan ada pula yang tertarik pada kegiatan menulis atau diskusi ringan. Pada awalnya, saya lebih banyak menentukan arah kegiatan agar waktu yang terbatas dapat berjalan efektif. Namun, pendekatan itu membuat ruang literasi terasa kurang hidup sebagai ruang tumbuhnya partisipasi dan dialog.
Dari pengalaman tersebut, saya mulai mengubah cara mengelola kegiatan di TBM. Sebelum kegiatan dimulai, saya membuka ruang sederhana untuk musyawarah. Anak-anak diajak duduk melingkar dan menyampaikan ide kegiatan literasi yang ingin mereka lakukan. Setiap usulan tidak hanya diterima, tetapi juga diminta disertai alasan serta pertimbangan dampaknya bagi teman lain.
Pada tahap awal, proses ini berjalan cukup spontan. Banyak anak masih mengajukan keinginan secara individual tanpa mempertimbangkan kebutuhan bersama. Namun saya tidak langsung mengoreksi, melainkan mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti siapa yang akan terlibat, siapa yang mungkin kurang cocok, dan bagaimana agar semua bisa ikut berpartisipasi.
Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Anak-anak mulai belajar mendengarkan pendapat teman mereka. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada keinginan pribadi, tetapi mulai memikirkan kepentingan kelompok. Diskusi yang awalnya ramai tanpa arah, perlahan menjadi lebih terstruktur dan saling menghargai.
Dalam salah satu sesi, muncul berbagai usulan seperti membaca bersama, menulis cerita, hingga membuat ulasan buku. Setelah melalui diskusi, mereka menyepakati untuk menggabungkan beberapa kegiatan tersebut. Hasilnya adalah kegiatan membaca bersama yang dilanjutkan dengan menulis cerita berdasarkan bacaan, sehingga semua minat dapat terakomodasi secara seimbang.
Perubahan yang paling terasa adalah tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap kegiatan literasi. Anak-anak tidak lagi hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga ikut menentukan arah kegiatan. Mereka mulai memahami bahwa keputusan bersama membutuhkan proses mendengar, menimbang, dan menyepakati.
Saya melihat bahwa ruang TBM bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang sosial yang melatih kemampuan berpikir kritis dan berkomunikasi. Anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan hambatan, melainkan sumber kekayaan ide yang dapat diolah bersama.
Pengalaman ini juga memperkuat keyakinan saya bahwa literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis teks, tetapi juga kemampuan berinteraksi secara sehat dalam sebuah komunitas. Musyawarah sederhana di ruang TBM menjadi sarana pembelajaran sosial yang sangat bermakna.
Dari praktik ini saya merefleksikan bahwa Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center telah berkembang menjadi ruang belajar bersama yang hidup. Di dalamnya, setiap suara memiliki ruang untuk didengar, setiap ide memiliki peluang untuk dipertimbangkan, dan setiap anak belajar menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang adil dan bermakna.


Follow TBM Akhyar Center on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram