Sabtu, 21 Februari 2026

Ramadhan Bercahaya, Literasi Menggema di TBM Akhyar Center

 


TBM Akhyar Center - Bulan Ramadhan selalu identik dengan ibadah, refleksi, dan penguatan spiritual. Namun di TBM Akhyar Center, Ramadhan juga menjadi momentum strategis untuk menyerukan gerakan literasi yang lebih hidup dan bermakna. Di tengah suasana yang syahdu, anak-anak dan remaja diajak memaknai puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari kesia-siaan waktu. Literasi hadir sebagai jalan produktif untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan aktivitas yang mencerahkan pikiran dan hati.

Setiap sore, sebelum waktu berbuka tiba, ruang baca TBM Akhyar Center dipenuhi anak-anak yang membawa semangat belajar. Mereka duduk melingkar, membaca buku cerita, kisah teladan, hingga bacaan pengetahuan populer. Relawan mendampingi dengan pendekatan yang hangat dan partisipatif, menciptakan suasana belajar yang inklusif. Kegiatan ini menjadi bentuk konkret bahwa budaya membaca dapat tumbuh dalam suasana religius yang penuh kedamaian.

Seruan literasi di bulan suci ini juga disampaikan melalui diskusi ringan setelah sesi membaca. Anak-anak diajak menceritakan kembali isi buku yang mereka baca, mengasah kemampuan memahami dan menyampaikan gagasan. Proses ini melatih daya kritis sekaligus membangun rasa percaya diri. Ramadhan pun menjadi ruang pembelajaran dialogis, bukan hanya ruang ritual yang monoton.

TBM Akhyar Center menekankan bahwa tradisi membaca memiliki akar kuat dalam sejarah peradaban Islam. Wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad adalah perintah untuk membaca, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an. Spirit inilah yang menjadi landasan moral gerakan literasi di bulan Ramadhan. Anak-anak diperkenalkan bahwa membaca bukan sekadar keterampilan akademik, tetapi juga bagian dari penguatan iman dan akhlak.

Selain membaca buku cetak, TBM Akhyar Center juga memanfaatkan media kreatif seperti pembacaan puisi Ramadhan, lomba resensi buku, dan pojok refleksi harian. Ragam aktivitas ini dirancang agar literasi tidak terasa kaku, melainkan menyenangkan. Anak-anak belajar bahwa membaca dapat melahirkan karya, ide, dan inspirasi yang bermanfaat bagi sesama.

Ramadhan juga dimaknai sebagai bulan berbagi. Karena itu, TBM Akhyar Center mengajak masyarakat menyumbangkan buku bacaan layak pakai untuk memperkaya koleksi perpustakaan komunitas. Gerakan ini memperluas partisipasi publik dalam membangun budaya literasi. Buku-buku yang terkumpul menjadi simbol kepedulian kolektif terhadap masa depan generasi muda.

Antusiasme peserta terlihat dari konsistensi kehadiran mereka setiap hari. Meski dalam keadaan berpuasa, semangat membaca tidak surut. Bahkan, banyak anak yang mulai meminjam buku untuk dibaca di rumah. Perubahan kecil ini menjadi indikator bahwa literasi mulai menjadi kebiasaan, bukan sekadar program musiman.

Lebih jauh, seruan literasi di bulan Ramadhan ini menjadi strategi membangun karakter. Membaca melatih kesabaran, konsentrasi, dan kemampuan berpikir mendalam—nilai-nilai yang selaras dengan makna puasa itu sendiri. Dengan demikian, aktivitas literasi bukan hanya meningkatkan kecerdasan kognitif, tetapi juga memperkuat dimensi emosional dan spiritual anak-anak.

Melalui gerakan ini, TBM Akhyar Center ingin menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum kebangkitan ilmu. Di antara lantunan doa dan azan magrib yang dinanti, ada lembar-lembar buku yang dibaca dengan penuh kesungguhan. Literasi pun menggema sebagai cahaya yang menyempurnakan makna ibadah, menumbuhkan generasi yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga kuat dalam wawasan dan pemikiran.

Belajar dari Gaza: TBM Akhyar Center Ajak Anak Mengenal Kurikulum Palestina

 


TBM Akhyar Center - Di tengah arus globalisasi yang serba cepat, TBM Akhyar Center menghadirkan ruang belajar alternatif dengan mengajak anak-anak mengenal kurikulum Palestina sebagai jendela memahami ketangguhan pendidikan di tengah keterbatasan. Kegiatan ini tidak dimaksudkan sebagai perbandingan politik, melainkan sebagai pembelajaran nilai: bagaimana sebuah bangsa tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama meski berada dalam tekanan. Anak-anak diajak melihat bahwa sekolah bukan sekadar ruang kelas, tetapi simbol harapan dan daya tahan.

Dalam sesi pengenalan tersebut, relawan memaparkan gambaran umum sistem pendidikan di Palestina yang menekankan identitas, sejarah, bahasa, serta pembentukan karakter kolektif. Anak-anak dikenalkan pada bagaimana kurikulum dirancang untuk menjaga jati diri budaya sekaligus mendorong literasi dan numerasi. Diskusi berlangsung hangat, karena materi disampaikan melalui cerita, peta, dan buku bacaan anak yang relevan dengan usia mereka.

Salah satu hal yang ditekankan adalah bagaimana pelajar di kota seperti Gaza tetap belajar dalam kondisi yang tidak selalu ideal. Dari sini, anak-anak di TBM Akhyar Center belajar tentang ketekunan. Mereka memahami bahwa akses pendidikan yang mereka miliki adalah anugerah yang perlu disyukuri. Proses ini menumbuhkan empati global sekaligus kesadaran akan pentingnya memanfaatkan kesempatan belajar dengan sungguh-sungguh.

Kegiatan ini juga membahas bagaimana kurikulum Palestina mengintegrasikan sejarah nasional dalam pembelajaran sehari-hari. Anak-anak diajak berdiskusi tentang arti identitas dan bagaimana setiap bangsa memiliki narasi perjuangan masing-masing. Relawan mengemasnya dalam bahasa sederhana agar mudah dipahami, tanpa kehilangan kedalaman makna. Dengan pendekatan ini, literasi sejarah tidak terasa berat, melainkan mengalir sebagai kisah inspiratif.

TBM Akhyar Center memadukan pengenalan kurikulum tersebut dengan kegiatan membaca bersama. Buku-buku tentang budaya Timur Tengah, kisah anak-anak di berbagai belahan dunia, serta cerita perjuangan pendidikan dibacakan dan didiskusikan. Anak-anak tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak berpikir kritis: apa yang bisa dipelajari dari sistem pendidikan yang bertahan di tengah tantangan besar?

Selain aspek akademik, pembahasan juga menyentuh nilai solidaritas dan kemanusiaan. Anak-anak diajak memahami bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga martabat suatu bangsa. Diskusi kecil dilakukan untuk menghubungkan konteks Palestina dengan kehidupan mereka sehari-hari. Mereka diajak bertanya: bagaimana kita bisa menjaga semangat belajar, meski menghadapi kesulitan pribadi?

Kegiatan ini sekaligus memperluas wawasan global anak-anak. Mereka menyadari bahwa dunia pendidikan tidak tunggal dan setiap negara memiliki pendekatan berbeda sesuai konteks sosial-budayanya. Melalui pengenalan kurikulum Palestina, TBM Akhyar Center menanamkan sikap terbuka terhadap keberagaman sistem pendidikan dunia, sekaligus menguatkan identitas lokal sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.

Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka mulai membandingkan mata pelajaran yang mereka pelajari dengan yang diajarkan di Palestina. Percakapan sederhana itu melatih kemampuan analitis sejak dini. Mereka belajar bahwa memahami dunia bukan berarti kehilangan jati diri, tetapi justru memperkaya perspektif. Literasi global pun tumbuh secara alami melalui dialog dan bacaan.

Melalui program ini, TBM Akhyar Center menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi jembatan solidaritas dan pemahaman lintas bangsa. Mengenal kurikulum Palestina bukan sekadar mengetahui struktur mata pelajaran, melainkan belajar tentang keteguhan, identitas, dan pentingnya pendidikan sebagai cahaya dalam situasi apa pun. Dari ruang baca sederhana, anak-anak diajak menatap dunia dengan empati dan semangat belajar yang lebih luas.

Menunggu Iftor dengan Cahaya Buku di TBM Akhyar Center

 


TBM Akhyar Center - Menjelang waktu ifthor, suasana di TBM Akhyar Center tidak diisi dengan kegelisahan menanti azan, melainkan dengan lembar-lembar buku yang dibuka perlahan oleh tangan-tangan kecil penuh semangat. Anak-anak duduk melingkar di atas tikar sederhana, sebagian bersandar di rak buku, sebagian lagi membaca dengan suara pelan yang nyaris seperti doa. Ramadan di ruang ini tidak hanya menjadi bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan perjumpaan antara rasa lapar, kesabaran, dan pengetahuan yang menumbuhkan jiwa.

Kegiatan membaca bersama ini dirancang sebagai ruang alternatif yang menenangkan. Ketika energi fisik menurun menjelang sore, energi kognitif justru diarahkan untuk bertumbuh. Para relawan mendampingi dengan sabar, membantu anak-anak memilih bacaan yang sesuai usia dan minat mereka. Buku cerita nabi, kisah inspiratif tokoh muslim, komik edukatif, hingga ensiklopedia sains anak menjadi pilihan yang memperkaya cakrawala berpikir mereka.

Tidak ada paksaan dalam sesi ini. Anak-anak diberi kebebasan memilih, karena minat adalah pintu pertama literasi. Beberapa anak terlihat saling berbagi cerita tentang isi buku yang mereka baca, menciptakan diskusi kecil yang hangat. Dari percakapan sederhana itu, tumbuh kemampuan menyimak, berbicara, dan menghargai pendapat teman. Ramadan pun menjadi ruang belajar sosial yang hidup.

Menariknya, suasana hening menjelang magrib justru menghadirkan konsentrasi yang lebih dalam. Tanpa gangguan gawai dan kebisingan luar, anak-anak belajar mengelola waktu menunggu dengan kegiatan produktif. Aktivitas ini bukan sekadar pengisi waktu, melainkan latihan pengendalian diri. Mereka belajar bahwa menahan lapar dapat berjalan seiring dengan menumbuhkan ilmu.

TBM Akhyar Center memaknai literasi sebagai bagian dari ibadah. Membaca dipandang sebagai upaya memahami ciptaan Tuhan, memperluas wawasan, dan membangun karakter. Dalam tradisi Islam, wahyu pertama adalah perintah untuk membaca. Semangat itu dihidupkan kembali melalui kegiatan sederhana namun bermakna ini. Anak-anak tidak hanya diajak menunggu waktu berbuka, tetapi diajak memahami makna belajar sepanjang hayat.

Di sela-sela membaca, relawan sering menyisipkan sesi refleksi ringan. Anak-anak diminta menceritakan satu nilai baik yang mereka temukan dari bacaan hari itu. Ada yang berbicara tentang kejujuran, ada yang menyinggung keberanian, dan ada pula yang terinspirasi tentang pentingnya berbagi. Proses ini menanamkan bahwa membaca bukan hanya memahami teks, tetapi juga menyerap nilai.

Kegiatan ini juga menjadi ruang kebersamaan lintas usia. Anak yang lebih besar membantu adik-adik mengeja kata yang sulit. Interaksi tersebut melatih empati dan tanggung jawab sosial. Ramadan yang identik dengan berbagi makanan kini juga dimaknai sebagai berbagi ilmu. Nilai ukhuwah tumbuh secara alami melalui aktivitas literasi.

Menjelang azan magrib, buku-buku perlahan ditutup. Wajah-wajah yang tadi tenggelam dalam cerita kini berseri menanti ifthor. Doa dipanjatkan bersama, dan takjil sederhana dibagikan. Momen berbuka terasa lebih bermakna karena sebelumnya diisi dengan kegiatan yang mencerahkan pikiran dan hati. Ada rasa syukur yang lebih dalam, karena waktu tidak terbuang sia-sia.

Melalui membaca bersama di bulan Ramadan, TBM Akhyar Center menunjukkan bahwa literasi dapat berjalan selaras dengan spiritualitas. Menunggu berbuka tidak harus diisi dengan keluh kesah atau kebosanan. Ia bisa menjadi waktu terbaik untuk menanam benih pengetahuan dan karakter. Di antara lapar dan sabar, buku-buku menjadi cahaya kecil yang menerangi perjalanan tumbuh anak-anak menuju masa depan yang lebih berilmu dan berakhlak.

© Copyright 2019-2026 TBM Akhyar Center | All Right Reserved