TBM Akhyar Center - Sebagai guru Pendidikan Agama Islam sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya sering memulai pembelajaran dengan cerita-cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Bagi saya, literasi bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca kehidupan dengan empati. Di kelas, saya melihat masih ada siswa yang mudah berprasangka terhadap teman tanpa memahami kondisi sebenarnya. Dari pengalaman mendampingi anak-anak di taman bacaan, saya belajar bahwa cerita mampu menyentuh hati lebih dalam dibandingkan nasihat langsung. Oleh karena itu, saya menghadirkan sebuah kisah tentang seorang anak dan kotak bekalnya.
Saya mulai membacakan cerita tentang seorang siswa bernama Rafi yang setiap hari membawa kotak nasi dari rumah. Kotak itu selalu ia letakkan rapi di dalam tas. Saat jam istirahat tiba, teman-temannya membuka bekal dengan riang, tetapi Rafi hanya duduk di sudut kelas. Ia tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya tidak lapar. Kebiasaan itu terjadi hampir setiap hari. Teman-temannya mulai memperhatikan bahwa kotak nasi Rafi tidak pernah dibuka.
Beberapa siswa dalam cerita mulai berbisik. Ada yang mengira Rafi tidak menyukai masakan ibunya. Ada pula yang beranggapan ia sedang diet. Bahkan ada yang menilai Rafi pelit karena tidak pernah berbagi. Prasangka-prasangka kecil itu terus berkembang tanpa ada yang benar-benar bertanya. Rafi tetap diam dan tersenyum seperti biasa.
Suatu hari, seorang temannya bernama Dani merasa penasaran. Ia memperhatikan bahwa setiap pulang sekolah, Rafi selalu membawa pulang kotak nasi yang masih utuh. Dani mulai bertanya-tanya dalam hati. Ia ingin menanyakan langsung, tetapi ragu. Ia takut membuat Rafi tidak nyaman. Namun rasa ingin tahunya semakin besar.
Keesokan harinya, Dani memberanikan diri mengikuti Rafi setelah pulang sekolah. Dari kejauhan, ia melihat Rafi berjalan cepat menuju rumah kecil di ujung gang. Di depan rumah itu, seorang anak kecil menyambutnya dengan wajah ceria. Rafi duduk di teras, membuka kotak bekalnya, lalu menyuapi adiknya dengan penuh kasih sayang. Dani tertegun melihat pemandangan itu.
Rafi ternyata sengaja tidak makan di sekolah agar adiknya bisa makan siang. Di rumah hanya ada satu porsi nasi yang dibagi untuk mereka berdua. Ibunya bekerja hingga sore hari, sehingga Rafi memilih menahan lapar. Ia tidak pernah menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Baginya, melihat adiknya makan sudah membuatnya bahagia.
Saya menghentikan cerita sejenak dan melihat wajah siswa di kelas. Suasana menjadi hening. Beberapa siswa tampak terharu. Saya kemudian mengajak mereka berdiskusi tentang prasangka, empati, dan kepedulian dalam Islam. Kami membahas bagaimana Islam mengajarkan untuk tidak berburuk sangka dan pentingnya berbagi. Diskusi berlangsung hangat dan reflektif.
Cerita ini tidak berhenti di kelas. Di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya kembali membacakan kisah yang sama. Anak-anak diminta menuliskan pengalaman berbagi yang pernah mereka lakukan. Beberapa anak mengaku mulai membawa bekal lebih untuk dibagi. Ada juga yang mengajak teman membaca bersama sambil berbagi makanan sederhana. Literasi perlahan berubah menjadi gerakan empati.
Melalui cerita kotak bekal ini, saya menyadari bahwa kisah sederhana dapat menumbuhkan pemahaman yang mendalam. Siswa belajar bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak terlihat. Mereka mulai mengurangi prasangka dan meningkatkan kepedulian. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pun menjadi lebih hidup karena nilai-nilai akhlak tidak hanya dipahami, tetapi dirasakan. Literasi akhirnya menjadi jembatan antara membaca, memahami, dan mengamalkan nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.


Follow TBM Akhyar Center on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram