Selasa, 05 Mei 2026

TBM Akhyar Center sebagai Ruang Literasi yang Terhubung dengan Isu Pembangunan Lokal



TBM Akhyar Center - Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center selama ini menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar. Namun, saya mulai melihat tantangan yang cukup nyata, yaitu kegiatan literasi masih cenderung berfokus pada aktivitas membaca dan menulis secara umum tanpa keterhubungan yang kuat dengan realitas sosial di sekitar mereka. Anak-anak aktif dalam kegiatan literasi, tetapi belum banyak yang memahami bagaimana pengetahuan itu bisa terhubung dengan persoalan dan potensi daerahnya.

Kondisi ini menjadi penting untuk saya respon karena literasi sejatinya tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga kesadaran sosial. Di sekitar TBM, terdapat berbagai potensi lokal seperti usaha kecil, budaya membaca keluarga, serta aktivitas ekonomi berbasis komunitas. Namun, potensi tersebut belum banyak dijadikan sumber belajar yang bermakna bagi anak-anak.

Sebagai langkah awal, saya mengubah pendekatan kegiatan literasi di TBM. Saya mulai mengarahkan anak-anak untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga mengaitkan isi bacaan dengan kehidupan di sekitar mereka. Kami melakukan diskusi sederhana tentang lingkungan tempat tinggal, kemudian menghubungkannya dengan tema bacaan seperti kewirausahaan kecil, lingkungan hidup, dan kisah tokoh inspiratif lokal. Anak-anak juga diajak membuat catatan sederhana tentang apa yang mereka lihat di sekitar rumah dan lingkungan TBM.

Dalam proses ini, saya mulai melihat perubahan pola pikir mereka. Anak-anak tidak lagi hanya berbicara tentang isi buku, tetapi juga mulai membandingkan dan mengaitkannya dengan pengalaman nyata. Mereka mulai bertanya tentang usaha kecil di sekitar mereka, cara orang tua bekerja, dan bagaimana kegiatan literasi bisa bermanfaat bagi masyarakat. Beberapa bahkan mulai menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka.

Dampak yang mulai terlihat adalah tumbuhnya kesadaran bahwa literasi memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sosial. TBM tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang lingkungan dan masyarakat. Anak-anak mulai lebih peka terhadap potensi daerahnya sendiri, meskipun dalam skala sederhana.

Dari pengalaman ini saya merefleksikan bahwa literasi akan lebih bermakna jika dihubungkan dengan konteks lokal. Ketika anak-anak diajak membaca realitas di sekitarnya, mereka tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pembaca kehidupan. TBM Akhyar Center perlahan berkembang menjadi ruang yang tidak hanya membentuk kemampuan literasi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk memahami dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.

Ruang Musyawarah Literasi di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center



TBM Akhyar Center - Di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya sering menemui anak-anak dan remaja dengan latar minat yang sangat beragam. Ada yang antusias pada cerita fiksi, ada yang lebih suka komik, dan ada pula yang tertarik pada kegiatan menulis atau diskusi ringan. Pada awalnya, saya lebih banyak menentukan arah kegiatan agar waktu yang terbatas dapat berjalan efektif. Namun, pendekatan itu membuat ruang literasi terasa kurang hidup sebagai ruang tumbuhnya partisipasi dan dialog.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai mengubah cara mengelola kegiatan di TBM. Sebelum kegiatan dimulai, saya membuka ruang sederhana untuk musyawarah. Anak-anak diajak duduk melingkar dan menyampaikan ide kegiatan literasi yang ingin mereka lakukan. Setiap usulan tidak hanya diterima, tetapi juga diminta disertai alasan serta pertimbangan dampaknya bagi teman lain.

Pada tahap awal, proses ini berjalan cukup spontan. Banyak anak masih mengajukan keinginan secara individual tanpa mempertimbangkan kebutuhan bersama. Namun saya tidak langsung mengoreksi, melainkan mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti siapa yang akan terlibat, siapa yang mungkin kurang cocok, dan bagaimana agar semua bisa ikut berpartisipasi.

Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Anak-anak mulai belajar mendengarkan pendapat teman mereka. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada keinginan pribadi, tetapi mulai memikirkan kepentingan kelompok. Diskusi yang awalnya ramai tanpa arah, perlahan menjadi lebih terstruktur dan saling menghargai.

Dalam salah satu sesi, muncul berbagai usulan seperti membaca bersama, menulis cerita, hingga membuat ulasan buku. Setelah melalui diskusi, mereka menyepakati untuk menggabungkan beberapa kegiatan tersebut. Hasilnya adalah kegiatan membaca bersama yang dilanjutkan dengan menulis cerita berdasarkan bacaan, sehingga semua minat dapat terakomodasi secara seimbang.

Perubahan yang paling terasa adalah tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap kegiatan literasi. Anak-anak tidak lagi hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga ikut menentukan arah kegiatan. Mereka mulai memahami bahwa keputusan bersama membutuhkan proses mendengar, menimbang, dan menyepakati.

Saya melihat bahwa ruang TBM bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang sosial yang melatih kemampuan berpikir kritis dan berkomunikasi. Anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan hambatan, melainkan sumber kekayaan ide yang dapat diolah bersama.

Pengalaman ini juga memperkuat keyakinan saya bahwa literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis teks, tetapi juga kemampuan berinteraksi secara sehat dalam sebuah komunitas. Musyawarah sederhana di ruang TBM menjadi sarana pembelajaran sosial yang sangat bermakna.

Dari praktik ini saya merefleksikan bahwa Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center telah berkembang menjadi ruang belajar bersama yang hidup. Di dalamnya, setiap suara memiliki ruang untuk didengar, setiap ide memiliki peluang untuk dipertimbangkan, dan setiap anak belajar menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang adil dan bermakna.

Selasa, 21 April 2026

Menjaga Keberpihakan Anak melalui Literasi Kebersihan di Akhyar Center




TBM Akhyar Center - Upaya menanamkan kepedulian terhadap kebersihan dan masa depan anak terus dilakukan melalui pembelajaran yang bermakna dan kontekstual. Seorang guru Pendidikan Agama Islam yang juga pendiri Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center menginisiasi kegiatan literasi kebersihan yang terintegrasi antara pembelajaran di kelas dan aktivitas di taman bacaan. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa bahwa kebersihan bukan sekadar aturan sekolah, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial dan bekal kehidupan di masa depan.

Kegiatan diawali dengan refleksi sederhana mengenai pengalaman belajar yang paling bermakna bagi siswa. Mereka diminta menceritakan hal-hal yang membuat mereka nyaman belajar dan tantangan yang sering dihadapi di lingkungan sekolah. Dari refleksi tersebut, muncul kesadaran bahwa kebersihan ruang belajar dan lingkungan sekitar menjadi kebutuhan utama. Siswa menyadari bahwa lingkungan yang bersih membantu mereka belajar lebih fokus dan nyaman.

Selanjutnya, siswa diajak membaca cerita literasi tentang kepedulian terhadap lingkungan. Cerita tersebut menggambarkan sekelompok anak yang berinisiatif membersihkan ruang belajar bersama. Setelah membaca, siswa berdiskusi tentang dampak kebersihan terhadap kesehatan, kenyamanan, dan semangat belajar. Diskusi berlangsung aktif karena siswa mengaitkan cerita dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Pendekatan literasi kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata. Siswa bersama guru menyusun kegiatan menjaga kebersihan kelas dan ruang baca. Mereka membagi peran, membuat jadwal sederhana, dan menetapkan aturan bersama. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa di kelas, tetapi juga anak-anak yang datang ke Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center.

Di taman bacaan, siswa terlibat langsung menata buku, membersihkan rak, dan merapikan ruang baca. Mereka juga membuat pojok kebersihan sederhana sebagai pengingat bersama. Aktivitas ini dilakukan secara gotong royong sehingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap ruang belajar. Suasana taman bacaan menjadi lebih nyaman dan ramah bagi anak-anak.

Perubahan sikap siswa mulai terlihat setelah kegiatan berjalan. Mereka menjadi lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan tanpa harus diingatkan. Siswa juga mulai mengajak teman lain untuk menjaga kebersihan kelas. Kesadaran tersebut tumbuh dari pengalaman langsung, bukan sekadar instruksi guru.

Selain berdampak pada kebersihan, kegiatan ini juga menumbuhkan nilai tanggung jawab dan kerja sama. Siswa belajar bahwa kebersihan merupakan bagian dari kepedulian terhadap sesama. Lingkungan yang bersih memberikan manfaat bagi semua orang. Nilai-nilai ini sejalan dengan pembelajaran karakter dan literasi sosial.

Sebagai pendiri Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, penggagas kegiatan menegaskan bahwa literasi harus terhubung dengan tindakan nyata. Membaca cerita tentang kebersihan menjadi awal untuk membangun kebiasaan baik. Ketika siswa terlibat langsung, mereka memahami makna kebersihan secara lebih mendalam. Literasi pun berkembang menjadi gerakan sosial kecil di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya menjaga kebersihan dapat terus tumbuh sebagai bagian dari pembelajaran dan kehidupan sehari-hari. Sinergi antara sekolah dan Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center menjadi ruang kolaborasi yang mendorong siswa lebih peduli terhadap lingkungan. Upaya sederhana ini menjadi langkah nyata dalam menjaga keberpihakan pada anak dan mempersiapkan mereka menghadapi masa depan dengan sikap bertanggung jawab.

Sabtu, 18 April 2026

TBM Akhyar Center Ikuti Bimtek Komunitas Penggerak Literasi se-Sumatera Selatan


TBM Akhyar Center, Palembang — Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center menjadi salah satu peserta dalam kegiatan Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi: Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi Kategori C yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, 17–19 April 2026, di Hotel Grand Duta Syariah Palembang dengan melibatkan 30 perwakilan komunitas literasi dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Selatan.

Kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, Desi Ari Pressanti. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pengelolaan komunitas literasi secara profesional, berkelanjutan, serta mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan budaya baca tulis masyarakat.

Menurutnya, bimbingan teknis ini menjadi ruang penguatan kapasitas bagi komunitas literasi agar mampu merancang program yang terstruktur dan berorientasi pada keberlanjutan. Ia juga berharap kegiatan ini dapat mendorong komunitas untuk semakin aktif mengembangkan gerakan literasi di daerah masing-masing.

Selama pelaksanaan kegiatan, para peserta mendapatkan berbagai materi aplikatif yang relevan dengan kebutuhan komunitas literasi. Materi tersebut meliputi penyusunan program kerja komunitas, teknik penulisan proposal kegiatan, hingga penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang efektif dan akuntabel.

Ketua pelaksana kegiatan, Novita Afriyanti, menyampaikan bahwa bimbingan teknis ini dirancang untuk memberikan penguatan menyeluruh bagi komunitas literasi. Ia juga mengimbau seluruh peserta untuk mengikuti setiap sesi dengan sungguh-sungguh agar manfaat kegiatan dapat dirasakan secara maksimal.

Suasana kegiatan berlangsung khidmat namun tetap hangat dan interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi, berbagi pengalaman lapangan, serta kolaborasi antar komunitas yang berasal dari berbagai daerah di Sumatera Selatan.

TBM Akhyar Center sebagai salah satu peserta turut mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh semangat. Partisipasi ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas kelembagaan serta memperkuat program literasi yang selama ini dijalankan di tengah masyarakat.

Perwakilan TBM Akhyar Center menyampaikan bahwa kegiatan bimbingan teknis ini memberikan wawasan baru, khususnya dalam perencanaan program yang lebih sistematis dan peluang pengembangan komunitas secara berkelanjutan. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang membangun jejaring antar komunitas literasi se-Sumatera Selatan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh komunitas literasi peserta, termasuk TBM Akhyar Center, semakin kuat, adaptif, dan mampu menjadi motor penggerak peningkatan budaya literasi di masyarakat serta memperluas dampak program literasi yang inklusif dan berkelanjutan di Sumatera Selatan.

TBM Akhyar Center Ikuti Bimtek Komunitas Literasi yang Dibuka Langsung oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan di Palembang



TBM Akhyar Center - Taman Bacaan Masyarakat TBM Akhyar Center menjadi salah satu komunitas literasi yang mengikuti kegiatan Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi melalui Bimbingan Teknis Komunitas Penggerak Literasi Kategori C yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan di Palembang pada 17–19 April 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas komunitas literasi dalam merancang program yang berdampak bagi masyarakat.

Kegiatan bimbingan teknis secara resmi dibuka langsung oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa komunitas literasi memiliki peran penting sebagai penggerak budaya baca dan peningkatan kecakapan literasi masyarakat di berbagai daerah.

Acara pembukaan diawali dengan pendaftaran ulang peserta, menyanyikan lagu Indonesia Raya, laporan ketua pelaksana, sambutan Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, pembacaan doa, serta sesi foto bersama. Suasana pembukaan berlangsung khidmat sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar komunitas literasi yang hadir.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi kebijakan literasi di daerah yang disampaikan oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan. Materi ini memberikan gambaran arah penguatan literasi serta peluang kolaborasi antara pemerintah dan komunitas literasi.

Kegiatan dilanjutkan dengan tes awal yang difasilitasi panitia untuk memetakan pemahaman peserta terkait pengelolaan komunitas literasi. Hasil tes ini menjadi dasar dalam menentukan strategi pembelajaran selama bimbingan teknis berlangsung.

Memasuki hari kedua, materi “Merancang Program Komunitas Literasi Berdampak” disampaikan oleh Umi Laila Sari. Peserta diajak mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, menyusun tujuan program, serta merancang kegiatan yang relevan dan berdampak nyata.

TBM Akhyar Center mengikuti setiap sesi dengan aktif, terutama saat praktik penyusunan program. Berbagai ide kegiatan dirancang, mulai dari penguatan literasi keluarga, kelas membaca anak, hingga kegiatan literasi berbasis komunitas yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan materi penulisan proposal kegiatan komunitas penggerak literasi oleh Elly Sumantri. Melalui bimbingan teknis ini, TBM Akhyar Center diharapkan mampu mengembangkan program literasi yang lebih terarah, inovatif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Sabtu, 21 Februari 2026

Kotak Bekal yang Mengajarkan Arti Berbagi

 


TBM Akhyar Center - Sebagai guru Pendidikan Agama Islam sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya sering memulai pembelajaran dengan cerita-cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Bagi saya, literasi bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca kehidupan dengan empati. Di kelas, saya melihat masih ada siswa yang mudah berprasangka terhadap teman tanpa memahami kondisi sebenarnya. Dari pengalaman mendampingi anak-anak di taman bacaan, saya belajar bahwa cerita mampu menyentuh hati lebih dalam dibandingkan nasihat langsung. Oleh karena itu, saya menghadirkan sebuah kisah tentang seorang anak dan kotak bekalnya.

Saya mulai membacakan cerita tentang seorang siswa bernama Rafi yang setiap hari membawa kotak nasi dari rumah. Kotak itu selalu ia letakkan rapi di dalam tas. Saat jam istirahat tiba, teman-temannya membuka bekal dengan riang, tetapi Rafi hanya duduk di sudut kelas. Ia tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya tidak lapar. Kebiasaan itu terjadi hampir setiap hari. Teman-temannya mulai memperhatikan bahwa kotak nasi Rafi tidak pernah dibuka.

Beberapa siswa dalam cerita mulai berbisik. Ada yang mengira Rafi tidak menyukai masakan ibunya. Ada pula yang beranggapan ia sedang diet. Bahkan ada yang menilai Rafi pelit karena tidak pernah berbagi. Prasangka-prasangka kecil itu terus berkembang tanpa ada yang benar-benar bertanya. Rafi tetap diam dan tersenyum seperti biasa.

Suatu hari, seorang temannya bernama Dani merasa penasaran. Ia memperhatikan bahwa setiap pulang sekolah, Rafi selalu membawa pulang kotak nasi yang masih utuh. Dani mulai bertanya-tanya dalam hati. Ia ingin menanyakan langsung, tetapi ragu. Ia takut membuat Rafi tidak nyaman. Namun rasa ingin tahunya semakin besar.

Keesokan harinya, Dani memberanikan diri mengikuti Rafi setelah pulang sekolah. Dari kejauhan, ia melihat Rafi berjalan cepat menuju rumah kecil di ujung gang. Di depan rumah itu, seorang anak kecil menyambutnya dengan wajah ceria. Rafi duduk di teras, membuka kotak bekalnya, lalu menyuapi adiknya dengan penuh kasih sayang. Dani tertegun melihat pemandangan itu.

Rafi ternyata sengaja tidak makan di sekolah agar adiknya bisa makan siang. Di rumah hanya ada satu porsi nasi yang dibagi untuk mereka berdua. Ibunya bekerja hingga sore hari, sehingga Rafi memilih menahan lapar. Ia tidak pernah menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Baginya, melihat adiknya makan sudah membuatnya bahagia.

Saya menghentikan cerita sejenak dan melihat wajah siswa di kelas. Suasana menjadi hening. Beberapa siswa tampak terharu. Saya kemudian mengajak mereka berdiskusi tentang prasangka, empati, dan kepedulian dalam Islam. Kami membahas bagaimana Islam mengajarkan untuk tidak berburuk sangka dan pentingnya berbagi. Diskusi berlangsung hangat dan reflektif.

Cerita ini tidak berhenti di kelas. Di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya kembali membacakan kisah yang sama. Anak-anak diminta menuliskan pengalaman berbagi yang pernah mereka lakukan. Beberapa anak mengaku mulai membawa bekal lebih untuk dibagi. Ada juga yang mengajak teman membaca bersama sambil berbagi makanan sederhana. Literasi perlahan berubah menjadi gerakan empati.

Melalui cerita kotak bekal ini, saya menyadari bahwa kisah sederhana dapat menumbuhkan pemahaman yang mendalam. Siswa belajar bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak terlihat. Mereka mulai mengurangi prasangka dan meningkatkan kepedulian. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pun menjadi lebih hidup karena nilai-nilai akhlak tidak hanya dipahami, tetapi dirasakan. Literasi akhirnya menjadi jembatan antara membaca, memahami, dan mengamalkan nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

© Copyright 2019-2026 TBM Akhyar Center | All Right Reserved