Minggu, 26 Juli 2026

Dari TBM Akhyar Center untuk Peradaban, D.A. Akhyar Gaungkan Pentingnya Literasi Informasi

 


Prabumulih - Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya literasi melalui partisipasi aktif pada Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Prabumulih. Kegiatan yang berlangsung pada 23–24 Juli 2026 di Gedung Kesenian Rumah Dinas Wali Kota Prabumulih ini menghadirkan D.A. Akhyar, S.Ud., M.Pd., Gr. sebagai narasumber yang membawakan materi tentang pentingnya literasi informasi di era digital.

Dalam pemaparannya, D.A. Akhyar menegaskan bahwa literasi informasi merupakan keterampilan esensial abad ke-21. Masyarakat tidak cukup hanya mampu memperoleh informasi, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk menilai kredibilitas sumber, melakukan verifikasi, mengolah data secara kritis, serta menggunakan informasi secara etis dan bertanggung jawab.

Menurutnya, derasnya arus informasi di media digital membawa tantangan tersendiri. Kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh hoaks, disinformasi, maupun informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, literasi informasi perlu menjadi gerakan bersama yang melibatkan perpustakaan, sekolah, komunitas, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat.

Melalui TBM Akhyar Center, D.A. Akhyar terus mendorong terciptanya ruang belajar yang inklusif dan berkelanjutan. TBM tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran masyarakat yang mendorong budaya diskusi, kreativitas, inovasi, serta peningkatan kecakapan literasi sesuai dengan perkembangan zaman.

Selama dua hari pelaksanaan bimtek, peserta mengikuti berbagai sesi yang dikemas secara interaktif melalui diskusi, studi kasus, praktik evaluasi sumber informasi, serta simulasi verifikasi fakta. Pendekatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang aplikatif sehingga peserta dapat langsung menerapkan kompetensi literasi informasi dalam kehidupan sehari-hari.

Partisipasi TBM Akhyar Center dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen untuk memperkuat ekosistem literasi di Kota Prabumulih. Kolaborasi antara pemerintah daerah, perpustakaan, komunitas literasi, dan masyarakat diyakini menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang cerdas, adaptif, dan berdaya saing.

Ke depan, TBM Akhyar Center akan terus mengembangkan berbagai program literasi yang tidak hanya berfokus pada budaya baca, tetapi juga pada penguatan literasi informasi, literasi digital, serta pengembangan kapasitas masyarakat agar mampu menghadapi tantangan era transformasi digital.

Melalui semangat kolaborasi dan pembelajaran sepanjang hayat, TBM Akhyar Center berharap dapat terus menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat untuk belajar, berbagi, dan berkarya. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan fondasi dalam membangun peradaban yang berilmu, berkarakter, dan berkemajuan.

Minggu, 12 Juli 2026

Akhyar Berbagi Strategi Literasi di Temu Pendidik Nusantara Pagar Alam





TBM Akhyar Center - Ketua TBM Akhyar Center hadir sebagai pembicara pada ajang Temu Pendidik Nusantara Kel XIII di Pagar Alam. Kehadiran beliau memberikan warna baru dalam diskusi mengenai literasi di daerah. Peserta menyambut hangat materi yang disampaikan karena relevan dengan tantangan pendidikan saat ini.

Dalam sesi tersebut, beliau menekankan pentingnya membangun budaya baca sejak dini. Akhyar menjelaskan bahwa buku harus menjadi teman akrab bagi anak remaja di rumah. Akses terhadap bahan bacaan berkualitas menjadi kunci utama untuk membuka wawasan mereka.

Beliau juga berbagi pengalaman nyata dalam mengelola taman bacaan selama ini. Tantangan terbesar bukan pada kurangnya minat, melainkan pada cara penyajian literasi yang kurang menarik. Strategi yang tepat akan membuat anak remaja merasa bahwa membaca adalah bagian dari gaya hidup.

Kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi poin penting yang beliau soroti. Guru dan orang tua perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas membaca. Beliau mengajak para pendidik untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan literasi yang menyenangkan.

Materi yang disampaikan juga menyentuh aspek penggunaan teknologi yang bijak. Akhyar mengingatkan bahwa gawai bisa menjadi pendukung literasi jika diarahkan dengan benar. Anak remaja membutuhkan pendampingan agar mereka mampu memilah informasi yang bermanfaat.

Diskusi interaktif terjadi saat sesi tanya jawab berlangsung dengan penuh semangat. Banyak pendidik yang menceritakan kendala mereka di lapangan saat membimbing anak remaja. Akhyar memberikan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para guru di sekolah masing masing.

Pengalaman beliau dalam mendampingi remaja menjadi nilai tambah dalam pemaparan tersebut. Beliau memahami bahwa pendekatan yang kaku tidak akan berhasil pada usia ini. Akhyar menyarankan untuk memberikan ruang bagi anak remaja dalam memilih bacaan mereka sendiri.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi pegiat literasi di Pagar Alam. Beliau berharap langkah kecil yang dimulai dari taman bacaan dapat membawa perubahan besar bagi pendidikan daerah. Semangat berbagi menjadi modal utama untuk terus bergerak maju ke depan.

Temu Pendidik Nusantara di Pagar Alam ditutup dengan komitmen bersama untuk meningkatkan literasi. Akhyar merasa puas karena banyak pendidik yang antusias untuk menerapkan ide tersebut. Langkah nyata setelah acara ini menjadi harapan bagi kemajuan anak bangsa di masa mendatang.

Minggu, 07 Juni 2026

Guru sebagai Narasumber dan Perancang Pembelajaran Literasi Anak yang Kreatif di Era Protean


TBM Akhyar Center - Perubahan peran guru dalam ekosistem pendidikan modern tidak lagi terbatas pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Guru kini dapat bertransformasi menjadi narasumber, perancang kegiatan, sekaligus penggerak literasi di komunitas. Pengalaman sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center menunjukkan bahwa praktik pembelajaran yang lahir dari kelas dapat berkembang menjadi model kegiatan literasi yang lebih luas dan berdampak bagi masyarakat.

Dalam berbagai kegiatan di komunitas literasi, saya sering diundang sebagai narasumber untuk merancang pembelajaran kreatif bagi anak-anak. Fokus utama bukan hanya pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga pada pembentukan cara berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran lingkungan. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami realitas, menafsirkan informasi, dan mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk kegiatan yang sering saya kembangkan adalah pembelajaran literasi berbasis pengalaman nyata. Anak-anak tidak hanya membaca teks, tetapi juga diajak mengamati lingkungan sekitar, berdiskusi tentang fenomena sosial, serta menulis kembali pengalaman mereka dalam bentuk cerita reflektif. Misalnya, dalam kegiatan literasi lingkungan, anak-anak diajak mengamati sungai, jalan raya, atau ruang publik, kemudian mendiskusikan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Dari sana, mereka belajar menghubungkan teks dengan konteks kehidupan nyata.

Peran sebagai narasumber dalam komunitas literasi juga menuntut kemampuan merancang kegiatan yang adaptif. Setiap komunitas memiliki karakteristik peserta yang berbeda, baik dari segi usia, latar belakang sosial, maupun tingkat literasi. Oleh karena itu, desain kegiatan harus fleksibel namun tetap memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Saya biasanya menggunakan pendekatan berbasis pertanyaan terbuka, diskusi reflektif, dan aktivitas kolaboratif agar peserta aktif membangun pemahaman mereka sendiri.

Tantangan utama dalam peran ini adalah menggeser paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pengalaman peserta. Banyak kegiatan literasi masih cenderung bersifat instruktif, di mana anak-anak hanya menerima informasi tanpa kesempatan untuk mengeksplorasi dan menafsirkan. Untuk mengatasi hal ini, saya merancang aktivitas yang memberi ruang bagi peserta untuk bertanya, mengamati, dan menyimpulkan sendiri hasil pembelajaran mereka.

Selain itu, keterbatasan sumber daya di komunitas literasi juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua kegiatan dapat didukung dengan media pembelajaran yang lengkap. Oleh karena itu, saya memanfaatkan pendekatan literasi kontekstual, yaitu menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar utama. Hal ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih relevan, tetapi juga lebih mudah diterapkan oleh komunitas dengan berbagai kondisi.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, kegiatan literasi ini juga menjadi sarana internalisasi nilai-nilai akhlak. Anak-anak diajak memahami pentingnya kejujuran dalam menyampaikan informasi, tanggung jawab dalam bertindak, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Dengan demikian, literasi tidak hanya menghasilkan kemampuan kognitif, tetapi juga membentuk karakter yang seimbang antara pengetahuan dan nilai moral.

Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa guru memiliki potensi besar untuk berkembang dalam karier protean, yaitu karier yang fleksibel, dinamis, dan terus berevolusi sesuai dengan pengalaman dan kontribusi nyata. Menulis, merancang kegiatan, dan menjadi narasumber merupakan bagian dari satu kesatuan peran yang saling menguatkan. Praktik di kelas menjadi dasar, sementara komunitas menjadi ruang perluasan dampak.

Pada akhirnya, transformasi guru menjadi narasumber dan perancang kegiatan literasi menunjukkan bahwa pembelajaran tidak memiliki batas ruang. Apa yang dimulai dari catatan sederhana di kelas dapat berkembang menjadi model pembelajaran kreatif yang menginspirasi banyak komunitas. Di titik inilah peran guru melampaui sekadar pengajar; ia menjadi arsitek pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir generasi muda dalam memahami dunia secara lebih kritis, reflektif, dan bermakna.

Selasa, 05 Mei 2026

TBM Akhyar Center sebagai Ruang Literasi yang Terhubung dengan Isu Pembangunan Lokal



TBM Akhyar Center - Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center selama ini menjadi ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar. Namun, saya mulai melihat tantangan yang cukup nyata, yaitu kegiatan literasi masih cenderung berfokus pada aktivitas membaca dan menulis secara umum tanpa keterhubungan yang kuat dengan realitas sosial di sekitar mereka. Anak-anak aktif dalam kegiatan literasi, tetapi belum banyak yang memahami bagaimana pengetahuan itu bisa terhubung dengan persoalan dan potensi daerahnya.

Kondisi ini menjadi penting untuk saya respon karena literasi sejatinya tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga kesadaran sosial. Di sekitar TBM, terdapat berbagai potensi lokal seperti usaha kecil, budaya membaca keluarga, serta aktivitas ekonomi berbasis komunitas. Namun, potensi tersebut belum banyak dijadikan sumber belajar yang bermakna bagi anak-anak.

Sebagai langkah awal, saya mengubah pendekatan kegiatan literasi di TBM. Saya mulai mengarahkan anak-anak untuk tidak hanya membaca buku, tetapi juga mengaitkan isi bacaan dengan kehidupan di sekitar mereka. Kami melakukan diskusi sederhana tentang lingkungan tempat tinggal, kemudian menghubungkannya dengan tema bacaan seperti kewirausahaan kecil, lingkungan hidup, dan kisah tokoh inspiratif lokal. Anak-anak juga diajak membuat catatan sederhana tentang apa yang mereka lihat di sekitar rumah dan lingkungan TBM.

Dalam proses ini, saya mulai melihat perubahan pola pikir mereka. Anak-anak tidak lagi hanya berbicara tentang isi buku, tetapi juga mulai membandingkan dan mengaitkannya dengan pengalaman nyata. Mereka mulai bertanya tentang usaha kecil di sekitar mereka, cara orang tua bekerja, dan bagaimana kegiatan literasi bisa bermanfaat bagi masyarakat. Beberapa bahkan mulai menulis cerita pendek yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka.

Dampak yang mulai terlihat adalah tumbuhnya kesadaran bahwa literasi memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sosial. TBM tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membaca, tetapi juga sebagai ruang belajar tentang lingkungan dan masyarakat. Anak-anak mulai lebih peka terhadap potensi daerahnya sendiri, meskipun dalam skala sederhana.

Dari pengalaman ini saya merefleksikan bahwa literasi akan lebih bermakna jika dihubungkan dengan konteks lokal. Ketika anak-anak diajak membaca realitas di sekitarnya, mereka tidak hanya menjadi pembaca teks, tetapi juga pembaca kehidupan. TBM Akhyar Center perlahan berkembang menjadi ruang yang tidak hanya membentuk kemampuan literasi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk memahami dan peduli terhadap lingkungan sosialnya.

Ruang Musyawarah Literasi di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center



TBM Akhyar Center - Di Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, saya sering menemui anak-anak dan remaja dengan latar minat yang sangat beragam. Ada yang antusias pada cerita fiksi, ada yang lebih suka komik, dan ada pula yang tertarik pada kegiatan menulis atau diskusi ringan. Pada awalnya, saya lebih banyak menentukan arah kegiatan agar waktu yang terbatas dapat berjalan efektif. Namun, pendekatan itu membuat ruang literasi terasa kurang hidup sebagai ruang tumbuhnya partisipasi dan dialog.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai mengubah cara mengelola kegiatan di TBM. Sebelum kegiatan dimulai, saya membuka ruang sederhana untuk musyawarah. Anak-anak diajak duduk melingkar dan menyampaikan ide kegiatan literasi yang ingin mereka lakukan. Setiap usulan tidak hanya diterima, tetapi juga diminta disertai alasan serta pertimbangan dampaknya bagi teman lain.

Pada tahap awal, proses ini berjalan cukup spontan. Banyak anak masih mengajukan keinginan secara individual tanpa mempertimbangkan kebutuhan bersama. Namun saya tidak langsung mengoreksi, melainkan mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif seperti siapa yang akan terlibat, siapa yang mungkin kurang cocok, dan bagaimana agar semua bisa ikut berpartisipasi.

Seiring waktu, perubahan mulai terlihat. Anak-anak mulai belajar mendengarkan pendapat teman mereka. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada keinginan pribadi, tetapi mulai memikirkan kepentingan kelompok. Diskusi yang awalnya ramai tanpa arah, perlahan menjadi lebih terstruktur dan saling menghargai.

Dalam salah satu sesi, muncul berbagai usulan seperti membaca bersama, menulis cerita, hingga membuat ulasan buku. Setelah melalui diskusi, mereka menyepakati untuk menggabungkan beberapa kegiatan tersebut. Hasilnya adalah kegiatan membaca bersama yang dilanjutkan dengan menulis cerita berdasarkan bacaan, sehingga semua minat dapat terakomodasi secara seimbang.

Perubahan yang paling terasa adalah tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap kegiatan literasi. Anak-anak tidak lagi hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga ikut menentukan arah kegiatan. Mereka mulai memahami bahwa keputusan bersama membutuhkan proses mendengar, menimbang, dan menyepakati.

Saya melihat bahwa ruang TBM bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang sosial yang melatih kemampuan berpikir kritis dan berkomunikasi. Anak-anak belajar bahwa perbedaan bukan hambatan, melainkan sumber kekayaan ide yang dapat diolah bersama.

Pengalaman ini juga memperkuat keyakinan saya bahwa literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis teks, tetapi juga kemampuan berinteraksi secara sehat dalam sebuah komunitas. Musyawarah sederhana di ruang TBM menjadi sarana pembelajaran sosial yang sangat bermakna.

Dari praktik ini saya merefleksikan bahwa Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center telah berkembang menjadi ruang belajar bersama yang hidup. Di dalamnya, setiap suara memiliki ruang untuk didengar, setiap ide memiliki peluang untuk dipertimbangkan, dan setiap anak belajar menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan yang adil dan bermakna.

Selasa, 21 April 2026

Menjaga Keberpihakan Anak melalui Literasi Kebersihan di Akhyar Center




TBM Akhyar Center - Upaya menanamkan kepedulian terhadap kebersihan dan masa depan anak terus dilakukan melalui pembelajaran yang bermakna dan kontekstual. Seorang guru Pendidikan Agama Islam yang juga pendiri Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center menginisiasi kegiatan literasi kebersihan yang terintegrasi antara pembelajaran di kelas dan aktivitas di taman bacaan. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa bahwa kebersihan bukan sekadar aturan sekolah, melainkan bagian dari tanggung jawab sosial dan bekal kehidupan di masa depan.

Kegiatan diawali dengan refleksi sederhana mengenai pengalaman belajar yang paling bermakna bagi siswa. Mereka diminta menceritakan hal-hal yang membuat mereka nyaman belajar dan tantangan yang sering dihadapi di lingkungan sekolah. Dari refleksi tersebut, muncul kesadaran bahwa kebersihan ruang belajar dan lingkungan sekitar menjadi kebutuhan utama. Siswa menyadari bahwa lingkungan yang bersih membantu mereka belajar lebih fokus dan nyaman.

Selanjutnya, siswa diajak membaca cerita literasi tentang kepedulian terhadap lingkungan. Cerita tersebut menggambarkan sekelompok anak yang berinisiatif membersihkan ruang belajar bersama. Setelah membaca, siswa berdiskusi tentang dampak kebersihan terhadap kesehatan, kenyamanan, dan semangat belajar. Diskusi berlangsung aktif karena siswa mengaitkan cerita dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Pendekatan literasi kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata. Siswa bersama guru menyusun kegiatan menjaga kebersihan kelas dan ruang baca. Mereka membagi peran, membuat jadwal sederhana, dan menetapkan aturan bersama. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa di kelas, tetapi juga anak-anak yang datang ke Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center.

Di taman bacaan, siswa terlibat langsung menata buku, membersihkan rak, dan merapikan ruang baca. Mereka juga membuat pojok kebersihan sederhana sebagai pengingat bersama. Aktivitas ini dilakukan secara gotong royong sehingga menumbuhkan rasa memiliki terhadap ruang belajar. Suasana taman bacaan menjadi lebih nyaman dan ramah bagi anak-anak.

Perubahan sikap siswa mulai terlihat setelah kegiatan berjalan. Mereka menjadi lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan tanpa harus diingatkan. Siswa juga mulai mengajak teman lain untuk menjaga kebersihan kelas. Kesadaran tersebut tumbuh dari pengalaman langsung, bukan sekadar instruksi guru.

Selain berdampak pada kebersihan, kegiatan ini juga menumbuhkan nilai tanggung jawab dan kerja sama. Siswa belajar bahwa kebersihan merupakan bagian dari kepedulian terhadap sesama. Lingkungan yang bersih memberikan manfaat bagi semua orang. Nilai-nilai ini sejalan dengan pembelajaran karakter dan literasi sosial.

Sebagai pendiri Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center, penggagas kegiatan menegaskan bahwa literasi harus terhubung dengan tindakan nyata. Membaca cerita tentang kebersihan menjadi awal untuk membangun kebiasaan baik. Ketika siswa terlibat langsung, mereka memahami makna kebersihan secara lebih mendalam. Literasi pun berkembang menjadi gerakan sosial kecil di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan budaya menjaga kebersihan dapat terus tumbuh sebagai bagian dari pembelajaran dan kehidupan sehari-hari. Sinergi antara sekolah dan Taman Bacaan Masyarakat Akhyar Center menjadi ruang kolaborasi yang mendorong siswa lebih peduli terhadap lingkungan. Upaya sederhana ini menjadi langkah nyata dalam menjaga keberpihakan pada anak dan mempersiapkan mereka menghadapi masa depan dengan sikap bertanggung jawab.

© Copyright 2019-2026 TBM Akhyar Center | All Right Reserved