Selasa, 06 Januari 2026

Pendiri TBM Akhyar Center Raih Guru PAI Inovatif Terbaik I Nasional Kemenag RI



TBM Akhyar Center - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dunia pendidikan Sumatera Selatan. Pendiri TBM Akhyar Center, sekaligus Wakil Ketua Guru Kreator Konten Sumatera Selatan dan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) berdedikasi, Dwiki Al Akhyar, S.Ud., M.Pd., Gr., berhasil meraih penghargaan Guru PAI Inovatif Terbaik I Nasional Tahun 2025 dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2025 yang berlangsung khidmat di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (6/12). Pengakuan ini menjadi bukti nyata apresiasi negara terhadap guru yang berkontribusi aktif dalam transformasi pendidikan agama Islam berbasis inovasi dan literasi digital.

Akhyar dikenal luas sebagai pendidik inovatif yang secara konsisten menghadirkan pembelajaran PAI yang kreatif, kontekstual, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu inovasi unggulannya adalah Aplikasi Akhyarpedia, sebuah platform pembelajaran digital yang mengintegrasikan materi keislaman, penguatan karakter, serta pendekatan pedagogis yang ramah generasi digital. Inovasi ini dinilai mampu menjembatani nilai-nilai substansial ajaran Islam dengan realitas kehidupan peserta didik masa kini.

Sebagai pendiri TBM Akhyar Center, Akhyar juga berperan aktif dalam mengembangkan budaya literasi, pendidikan karakter, dan penguatan nilai keislaman melalui berbagai program berbasis komunitas. TBM Akhyar Center menjadi ruang alternatif pembelajaran yang menggabungkan literasi baca-tulis, literasi digital, serta nilai-nilai Islam moderat yang inklusif dan menyejukkan.

Di tingkat regional, Akhyar mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Guru Kreator Konten Sumatera Selatan. Melalui peran ini, ia mendorong para guru untuk bertransformasi menjadi kreator konten edukatif, tidak hanya sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai agen literasi digital dan penyebar pesan keislaman yang rahmatan lil ‘alamin di ruang publik digital.

Beragam karya digital yang dihasilkan Akhyar—mulai dari aplikasi pembelajaran PAI, konten refleksi keagamaan, hingga materi penguatan karakter—telah menjangkau audiens yang luas. Inovasi-inovasi tersebut dinilai mampu meningkatkan minat belajar siswa, memperkuat internalisasi nilai moral, serta memperluas dampak pendidikan agama Islam di era digital.

Dalam keterangannya, Akhyar menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi dan dukungan banyak pihak. Ia menegaskan bahwa inovasi dalam pendidikan agama Islam bukan sekadar mengikuti tren, melainkan ikhtiar untuk menghadirkan ajaran Islam yang membumi, relevan, adaptif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur ajaran Islam.

Melalui penghargaan Guru PAI Inovatif ini, Kementerian Agama RI menegaskan komitmennya dalam mendorong peningkatan kualitas, kreativitas, dan profesionalisme guru PAI di seluruh Indonesia. Guru dipandang tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai penggerak nilai, pembentuk karakter, dan penopang peradaban.

Prestasi yang diraih pendiri TBM Akhyar Center ini mendapatkan apresiasi luas dari berbagai kalangan pendidikan di Sumatera Selatan. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa guru daerah mampu menunjukkan kapasitas unggul, daya saing nasional, serta kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Ke depan, prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak guru untuk terus belajar, berinovasi, dan berkarya. Sosok Akhyar menjadi representasi guru PAI yang adaptif, visioner, dan berkomitmen menghadirkan pendidikan bermakna di tengah dinamika zaman.

Rabu, 17 Desember 2025

Masa Depan Guru Pejuang Digital: Assemblr dan Ekologi Pembelajaran Humanis

 


TBM Akhyar Center - Masa depan pendidikan digital menuntut keseimbangan yang matang antara pemanfaatan teknologi dan peneguhan nilai-nilai kemanusiaan. Guru pejuang digital memandang teknologi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk memperkaya pengalaman belajar. Dalam kerangka ini, Assemblr digunakan bukan untuk menggantikan peran manusia dalam pendidikan, tetapi untuk memperkuat kehadiran guru sebagai pendamping belajar yang empatik dan bermakna.

Guru pejuang digital menempatkan Assemblr sebagai alat yang mendukung relasi pedagogis, bukan sebagai pusat perhatian pembelajaran. Interaksi manusiawi antara guru dan siswa tetap menjadi inti proses belajar, sementara teknologi berfungsi sebagai jembatan yang membantu siswa memahami konsep secara lebih utuh. Dengan pendekatan ini, pembelajaran digital tetap berakar pada nilai dialog, kepedulian, dan penghargaan terhadap proses belajar siswa.

Assemblr memungkinkan guru menghadirkan pengalaman belajar yang lebih inklusif. Melalui visualisasi 3D dan AR, materi pembelajaran dapat diakses oleh siswa dengan latar belakang kemampuan, gaya belajar, dan kebutuhan yang beragam. Guru pejuang digital memanfaatkan fleksibilitas ini untuk memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang adil untuk memahami dan terlibat dalam pembelajaran.

Dalam praktiknya, teknologi ini juga mendukung pembelajaran yang adaptif. Guru dapat menyesuaikan kompleksitas materi, pendekatan visual, dan aktivitas eksplorasi sesuai dengan perkembangan dan kesiapan siswa. Pembelajaran tidak lagi bersifat seragam, melainkan responsif terhadap dinamika kelas. Hal ini memperkuat prinsip keadilan dan keberagaman dalam pendidikan digital.

Lebih jauh, Assemblr memungkinkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Guru dapat mengaitkan materi dengan realitas sosial, budaya, dan lingkungan siswa, sehingga pengetahuan tidak terlepas dari kehidupan nyata. Guru pejuang digital menggunakan teknologi untuk membantu siswa melihat keterkaitan antara konsep akademik dan pengalaman sehari-hari mereka.

Dalam ekosistem digital yang terus berkembang, guru pejuang digital juga berperan sebagai penjaga etika penggunaan teknologi. Guru tidak hanya mengajarkan cara menggunakan alat digital, tetapi juga menanamkan kesadaran kritis, tanggung jawab, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam berteknologi. Assemblr digunakan secara reflektif agar teknologi tidak mengaburkan tujuan utama pendidikan.

Peran ini menempatkan guru sebagai aktor kunci dalam membangun ekologi pembelajaran yang sehat. Teknologi, pedagogi, dan nilai kemanusiaan saling menopang dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Guru pejuang digital memastikan bahwa inovasi teknologi selalu berpihak pada perkembangan utuh peserta didik, baik secara kognitif, emosional, maupun sosial.

Ekologi pembelajaran humanis menuntut guru untuk terus menjaga keseimbangan antara inovasi dan refleksi. Assemblr menjadi salah satu unsur dalam sistem pembelajaran yang lebih luas, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari kualitas pengalaman belajar yang dirasakan siswa. Guru pejuang digital berperan sebagai pengarah agar teknologi tetap selaras dengan tujuan pendidikan jangka panjang.

Pada akhirnya, masa depan guru pejuang digital adalah masa depan pendidikan yang berakar pada kemanusiaan. Assemblr menjadi bagian dari perjalanan tersebut, sebagai alat yang memperkuat makna belajar, bukan menggantikannya. Dalam ekologi pembelajaran humanis, guru tetap menjadi pusat nilai, penjaga makna, dan penggerak utama pendidikan yang relevan, adil, dan berdaya bagi generasi masa depan.

Assemblr sebagai Ruang Kreasi Guru Pejuang Digital

 


TBM Akhyar Center - Assemblr tidak hanya berfungsi sebagai media penyaji materi, tetapi juga sebagai ruang kreasi pedagogis bagi guru pejuang digital. Melalui platform ini, guru memiliki kesempatan untuk berperan sebagai desainer pembelajaran yang aktif, bukan sekadar pengguna teknologi. Guru dapat merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan karakter siswa, konteks lokal, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, sehingga teknologi benar-benar menjadi perpanjangan dari visi pedagogis guru.

Sebagai ruang kreasi, Assemblr memungkinkan guru untuk menciptakan sendiri konten 3D dan augmented reality yang relevan dengan lingkungan belajar siswa. Guru pejuang digital dapat menghadirkan objek, situasi, atau fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Proses ini memperkuat otonomi dan kepercayaan diri guru dalam mengambil keputusan pedagogis yang bermakna.

Kebebasan berkreasi ini juga memperkuat teacher agency dalam desain pembelajaran. Guru tidak lagi bergantung sepenuhnya pada materi siap pakai, tetapi mampu menyesuaikan konten dengan kebutuhan aktual kelas. Dengan demikian, guru berperan sebagai arsitek pengalaman belajar yang sadar akan tujuan, proses, dan dampak pembelajaran terhadap perkembangan kognitif dan afektif siswa.

Kreativitas guru dalam memanfaatkan Assemblr sangat selaras dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Guru dapat merancang tugas yang menantang siswa untuk mengeksplorasi masalah nyata, mengembangkan solusi, dan mempresentasikan hasilnya melalui media 3D atau AR. Pembelajaran tidak lagi berhenti pada pemahaman konsep, tetapi berlanjut pada penerapan, refleksi, dan penciptaan karya.

Dalam konteks ini, siswa tidak diposisikan sebagai konsumen teknologi, melainkan sebagai co-creator dalam proses belajar. Guru pejuang digital membuka ruang kolaborasi, di mana siswa terlibat aktif dalam merancang, menguji, dan menyempurnakan karya digital mereka. Assemblr menjadi medium yang mendorong kerja tim, komunikasi, dan tanggung jawab bersama dalam pembelajaran.

Pendekatan kolaboratif tersebut turut mendukung pengembangan literasi digital kritis. Siswa belajar tidak hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memahami tujuan penggunaannya, menilai relevansi konten, dan mengaitkan teknologi dengan pemecahan masalah nyata. Guru berperan penting dalam membimbing proses ini agar teknologi digunakan secara reflektif dan etis.

Dari sudut pandang psikologi pendidikan, keterlibatan kreatif dalam pembelajaran meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Ketika siswa merasa memiliki peran, pilihan, dan kontrol dalam proses belajar, mereka cenderung lebih terlibat secara emosional dan kognitif. Assemblr memberikan ruang bagi pengalaman belajar yang bermakna, di mana rasa ingin tahu dan kepuasan belajar tumbuh secara alami.

Guru pejuang digital memanfaatkan potensi ini untuk membangun makna belajar yang melampaui pencapaian nilai akademik. Fokus pembelajaran bergeser dari sekadar hasil akhir menuju proses berpikir, eksplorasi, dan refleksi. Teknologi digunakan sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman dan membangun relasi positif antara siswa, guru, dan pengetahuan.

Pada akhirnya, Assemblr sebagai ruang kreasi menegaskan peran strategis guru pejuang digital dalam ekosistem pendidikan modern. Guru yang kreatif, reflektif, dan berdaya mampu menjadikan teknologi sebagai alat pembebasan pedagogis. Melalui Assemblr, pembelajaran tidak hanya menjadi lebih menarik, tetapi juga lebih manusiawi, bermakna, dan relevan dengan tantangan zaman.

Assemblr dan Ketangguhan Guru Pejuang Digital di Era Disrupsi

 


TBM Akhyar Center - Era disrupsi teknologi menghadirkan tantangan struktural dan kultural bagi dunia pendidikan. Perubahan yang cepat, kompleks, dan sering kali tidak terduga menuntut guru memiliki ketangguhan profesional yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga psikologis dan pedagogis. Dalam konteks ini, guru pejuang digital tampil sebagai figur yang mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap berkembang tanpa kehilangan orientasi kemanusiaan dalam praktik mengajarnya.

Ketangguhan profesional guru tidak sekadar diukur dari kemampuannya mengoperasikan perangkat digital, melainkan dari kesanggupan menafsirkan teknologi sebagai bagian dari strategi pedagogi. Assemblr hadir sebagai simbol ketangguhan tersebut, karena memungkinkan guru merespons disrupsi dengan kreativitas, bukan dengan resistensi. Teknologi ini menjadi jembatan antara tuntutan inovasi dan nilai-nilai pedagogi humanistik yang menempatkan siswa sebagai subjek belajar.

Dalam praktik pembelajaran, Assemblr membantu guru menciptakan pengalaman belajar yang bermakna meskipun berada dalam kondisi keterbatasan. Waktu belajar yang singkat, perbedaan kemampuan siswa, hingga keterbatasan sarana fisik dapat diatasi melalui visualisasi 3D dan AR yang fleksibel. Guru pejuang digital memanfaatkan teknologi ini untuk memastikan bahwa kualitas pembelajaran tetap terjaga, bahkan ketika kondisi tidak ideal.

Penggunaan Assemblr juga memperluas makna ruang kelas. Pembelajaran tidak lagi terikat pada dinding fisik atau media cetak semata, tetapi berkembang menjadi ruang eksplorasi yang dinamis dan kontekstual. Guru dapat menghadirkan fenomena yang jauh, kecil, atau kompleks ke dalam pengalaman belajar siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dengan realitas dan kebutuhan zaman.

Ketangguhan guru pejuang digital tercermin dalam kemampuannya menjaga keseimbangan antara inovasi dan refleksi. Assemblr tidak digunakan secara serampangan, tetapi melalui pertimbangan pedagogis yang matang. Guru secara sadar mengaitkan teknologi dengan tujuan pembelajaran, proses berpikir siswa, dan nilai-nilai etis dalam pendidikan. Sikap ini menunjukkan kedewasaan profesional dalam menghadapi godaan penggunaan teknologi secara berlebihan.

Di tengah era disrupsi, tekanan terhadap guru tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga emosional dan kognitif. Guru dituntut untuk terus menyesuaikan diri, belajar hal baru, dan menghadapi ekspektasi yang terus meningkat. Pemanfaatan Assemblr menjadi salah satu cara guru membangun kepercayaan diri profesional, karena ia memiliki alat yang mendukung kreativitas dan efektivitas pembelajaran.

Ketangguhan guru juga tampak dari kemauannya untuk terus belajar sepanjang hayat. Guru pejuang digital memosisikan dirinya sebagai pembelajar aktif yang terbuka terhadap pengetahuan baru. Dalam ekosistem digital, guru dan siswa sama-sama belajar, saling mengeksplorasi, dan membangun pemahaman bersama. Assemblr menjadi medium yang memperkuat relasi belajar yang setara dan dialogis.

Lebih jauh, ketangguhan ini berkontribusi pada keberlanjutan praktik pendidikan. Guru yang adaptif dan reflektif mampu menjaga relevansi pembelajaran tanpa terjebak pada kelelahan profesional. Teknologi seperti Assemblr, ketika digunakan secara bijak, justru membantu guru bekerja lebih efektif, kreatif, dan bermakna, sehingga mendukung keberlangsungan peran guru dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, Assemblr dan ketangguhan guru pejuang digital merupakan dua hal yang saling menguatkan. Teknologi memberikan peluang, sementara ketangguhan profesional memberikan arah dan makna. Di era disrupsi, guru yang tangguh bukanlah mereka yang sekadar mengikuti arus teknologi, melainkan mereka yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menjaga ruh pendidikan, memperdalam pembelajaran, dan memanusiakan proses belajar itu sendiri.

Guru Pejuang Digital dan Assemblr: Menghidupkan Pembelajaran Abstrak

 


TBM Akhyar Center - Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran sains, matematika, dan teknologi adalah sifat konsep-konsepnya yang abstrak dan sulit dibayangkan secara langsung oleh siswa. Guru pejuang digital hadir untuk menjawab tantangan ini dengan memanfaatkan Assemblr sebagai medium visualisasi pembelajaran. Melalui teknologi 3D dan augmented reality, konsep yang sebelumnya hanya hadir dalam bentuk simbol, rumus, atau teks kini dapat dihadirkan secara konkret, sehingga siswa memiliki pijakan awal yang lebih kuat untuk memahami materi.

Dengan Assemblr, objek-objek abstrak seperti struktur molekul, sistem tata surya, atau mekanisme kerja mesin dapat diamati secara spasial dan dinamis. Siswa tidak hanya melihat gambar statis, tetapi dapat memutar, memperbesar, dan mengeksplorasi objek dari berbagai sudut pandang. Pengalaman ini membantu siswa membangun pemahaman konseptual yang lebih utuh, karena mereka dapat mengaitkan representasi visual dengan penjelasan konseptual yang diberikan guru.

Pendekatan ini selaras dengan prinsip pembelajaran multisensorik, di mana informasi disajikan melalui lebih dari satu jalur kognitif. Assemblr memungkinkan penggabungan unsur visual, verbal, dan interaktif secara simultan. Ketika siswa mendengar penjelasan guru sambil mengamati dan berinteraksi dengan objek 3D, proses kognitif yang terjadi menjadi lebih kaya dan mendalam, sehingga memperkuat pemahaman dan daya ingat jangka panjang.

Dalam konteks pembelajaran sains, Assemblr membantu siswa memahami fenomena yang sulit diamati secara langsung di dunia nyata. Proses mikroskopis, skala kosmik, atau sistem kompleks dapat direpresentasikan secara aman dan realistis. Guru pejuang digital memanfaatkan hal ini untuk menumbuhkan penalaran ilmiah, mendorong siswa mengamati pola, hubungan sebab-akibat, serta keterkaitan antar konsep secara lebih sistematis.

Pada pembelajaran matematika, visualisasi 3D dan AR membantu mengurangi kesenjangan antara simbol abstrak dan makna geometris atau numerik di baliknya. Konsep ruang, vektor, bangun tiga dimensi, dan transformasi dapat dipahami melalui pengalaman visual yang nyata. Hal ini membuat matematika tidak lagi dipersepsikan sebagai kumpulan simbol yang kering, tetapi sebagai sistem logis yang dapat diamati dan dieksplorasi.

Lebih jauh, peran guru pejuang digital tercermin dalam kemampuannya menyeleksi dan memanfaatkan teknologi secara pedagogis, bukan sekadar teknis. Assemblr tidak digunakan sebagai hiburan atau pemanis pembelajaran, melainkan sebagai alat kognitif yang dirancang untuk mendukung tujuan belajar. Guru secara sadar menautkan aktivitas visual-interaktif dengan proses berpikir analitis, refleksi, dan diskusi bermakna.

Pemanfaatan Assemblr juga membuka ruang bagi pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Siswa tidak hanya diminta mengamati, tetapi juga menganalisis struktur, membandingkan model, memprediksi perubahan, dan menjelaskan fenomena berdasarkan representasi visual yang mereka eksplorasi. Guru pejuang digital berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan eksplorasi ini agar tetap fokus pada penguatan penalaran ilmiah.

Dalam praktiknya, penggunaan Assemblr mendorong perubahan dinamika kelas menjadi lebih dialogis dan partisipatif. Siswa terdorong untuk bertanya, mengemukakan interpretasi, dan menguji pemahamannya sendiri melalui interaksi dengan objek pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan mitra belajar yang membimbing proses konstruksi makna siswa.

Pada akhirnya, Assemblr menjadi medium strategis bagi guru pejuang digital untuk menghidupkan pembelajaran abstrak dan menjadikannya lebih manusiawi. Teknologi ini membantu menjembatani dunia konsep dengan pengalaman belajar yang nyata, sehingga siswa tidak hanya memahami materi secara kognitif, tetapi juga merasakannya sebagai pengalaman belajar yang bermakna. Transformasi ini menegaskan bahwa teknologi pendidikan memiliki nilai paling tinggi ketika ia memperdalam pemahaman dan memberdayakan proses berpikir siswa.

Assemblr sebagai Medium Transformasi Pedagogi Guru Pejuang Digital

 


TBM Akhyar Center - Perkembangan teknologi pendidikan telah menggeser peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi perancang pengalaman belajar yang bermakna. Dalam konteks ini, Assemblr sebagai platform augmented reality (AR) dan pembelajaran 3D interaktif hadir sebagai medium transformasi pedagogi bagi guru pejuang digital. Teknologi ini memungkinkan guru memvisualisasikan konsep yang kompleks dan abstrak menjadi pengalaman belajar konkret, sehingga siswa tidak hanya memahami secara konseptual, tetapi juga secara spasial dan kontekstual.

Dari sudut pandang teori belajar, pemanfaatan Assemblr selaras dengan pendekatan konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi aktif dengan lingkungan belajar. Ketika siswa berinteraksi langsung dengan objek 3D atau simulasi AR, mereka terlibat dalam proses eksplorasi, manipulasi, dan refleksi. Proses ini memperkuat pembentukan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan pembelajaran yang hanya bersifat pasif dan satu arah.

Assemblr juga berkontribusi pada penguatan pembelajaran aktif dan berbasis pengalaman. Melalui pengalaman belajar imersif, siswa terdorong untuk mengajukan pertanyaan, mengamati fenomena, dan menarik kesimpulan berdasarkan interaksi langsung dengan materi belajar. Bagi guru pejuang digital, pendekatan ini menjadi sarana strategis untuk menumbuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, penalaran, dan pemecahan masalah.

Dari sisi motivasi belajar, penggunaan media AR dan 3D interaktif terbukti mampu meningkatkan perhatian dan keterlibatan emosional siswa. Visualisasi yang kaya serta pengalaman belajar yang menyerupai eksplorasi dunia nyata memberikan dorongan intrinsik yang kuat. Guru yang memanfaatkan Assemblr dapat menciptakan suasana belajar yang lebih hidup, relevan, dan dekat dengan realitas digital yang sehari-hari dialami siswa.

Dalam konteks diferensiasi pembelajaran, Assemblr memberikan ruang bagi guru untuk menyesuaikan strategi dengan keragaman gaya belajar siswa. Representasi visual dan interaksi spasial sangat membantu siswa yang cenderung visual dan kinestetik, sekaligus melengkapi pendekatan verbal dan tekstual. Dengan demikian, guru pejuang digital dapat merancang pembelajaran yang lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan individu siswa.

Secara profesional, penguasaan Assemblr memperkuat identitas guru sebagai inovator pembelajaran. Guru yang mampu mengintegrasikan teknologi imersif menunjukkan literasi digital, kreativitas pedagogis, serta kesiapan menghadapi perubahan ekosistem pendidikan. Transformasi ini menegaskan bahwa perubahan pendidikan tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada kompetensi, sikap, dan pola pikir pendidik.

Dari perspektif pedagogi reflektif, penggunaan Assemblr mendorong guru untuk terus mengevaluasi efektivitas praktik pembelajaran mereka. Guru dituntut untuk memastikan bahwa teknologi benar-benar mendukung tujuan pembelajaran, bukan sekadar menjadi elemen visual yang menarik. Proses refleksi ini memperkuat profesionalisme guru dan menjaga agar pemanfaatan teknologi tetap bermakna dan bertanggung jawab.

Assemblr juga memiliki potensi besar dalam pembelajaran lintas disiplin. Guru dapat mengintegrasikan sains, teknologi, seni, dan matematika dalam satu pengalaman belajar berbasis proyek yang kontekstual. Pendekatan ini mendorong siswa untuk melihat keterkaitan antarbidang ilmu dan memahami penerapan pengetahuan dalam situasi nyata, sekaligus menumbuhkan kreativitas dan kolaborasi.

Pada akhirnya, Assemblr bukan sekadar alat teknologi, melainkan medium transformasi pedagogi yang menuntut kesadaran, kompetensi, dan komitmen guru. Bagi guru pejuang digital, pemanfaatan Assemblr menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang relevan, bermakna, dan berpusat pada siswa. Transformasi ini menegaskan bahwa teknologi dalam pendidikan memiliki nilai tertinggi ketika ia memperdalam pemahaman, memperkuat relasi belajar, dan memanusiakan proses pendidikan.

© Copyright 2019-2025 TBM Akhyar Center | All Right Reserved