Kamis, 22 Oktober 2026

Dedikasi Tanpa Batas, Ketua TBM Akhyar Center Resmi Menyandang Gelar Finalis Guru Berprestasi Nasional 2026 di Ajang Literasi Internasional.

 


PRABUMULIH - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh tokoh penggerak literasi dari TBM Akhyar Center pada penghujung tahun 2026 ini. D.A. Akhyar, S.Ud., M.Pd., Gr., yang merupakan Ketua TBM Akhyar Center, secara resmi dinobatkan sebagai salah satu finalis dalam ajang penghargaan bergengsi tingkat nasional. Pencapaian ini menjadi bukti nyata atas dedikasi dan kerja kerasnya dalam memajukan dunia pendidikan dan literasi di tanah air.

Penganugerahan gelar bergengsi ini menjadi bagian dari rangkaian acara akbar Padang International Literacy Festival. Berdasarkan informasi yang tertera pada atribut penghargaan, perayaan dan penganugerahan bagi para insan pendidik inspiratif tersebut dijadwalkan berlangsung pada tanggal 27 hingga 29 November 2026 mendatang. Ajang ini mengumpulkan para pendidik, pegiat literasi, dan tokoh-tokoh inspiratif dari berbagai penjuru untuk merayakan semangat membaca dan menulis.

Sebagai simbol pencapaian luar biasa tersebut, D.A. Akhyar menerima sebuah selempang kehormatan berwarna merah marun yang tampak elegan di dalam sebuah figura pajangan. Pada selempang tersebut, terukir indah dengan benang emas tulisan yang mengukuhkan gelarnya, yakni "D.A. Akhyar, S.Ud., M.Pd., Gr. Finalis Guru Berprestasi Nasional 2026". Selempang ini bukan sekadar kain kebanggaan, melainkan perlambang amanah dan tanggung jawab besar dalam memajukan pendidikan bangsa.

Tidak hanya itu, pada sisi lain selempang kehormatan tersebut juga tertera logo emas bertuliskan "Penyala Literasi Semesta" yang bersanding dengan tajuk acara "Padang International Literacy Festival". Logo ini merepresentasikan peran krusial seorang guru sebagai cahaya penerang yang menyalakan semangat literasi di tengah masyarakat. Gelar akademik dan profesi yang disandangnya, yakni S.Ud., M.Pd., Gr., turut membuktikan kapasitas keilmuan dan profesionalitasnya sebagai seorang pendidik.

Keberhasilan Ketua TBM Akhyar Center menembus babak final tingkat nasional ini tentu tidak lepas dari rekam jejak panjangnya bersama Yayasan Akhyar Bestari Indonesia. Melalui TBM Akhyar Center, ia telah secara konsisten menginisiasi berbagai program pemberdayaan masyarakat yang berpusat pada peningkatan minat baca. Gerakan akar rumput yang dibangunnya berhasil mengubah paradigma masyarakat sekitar tentang pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi "Finalis Guru Berprestasi Nasional 2026" merupakan sebuah pencapaian yang membutuhkan proses seleksi yang ketat dan komprehensif. Para penilai di tingkat nasional tentu menelaah tidak hanya dari aspek administratif dan akademis, tetapi juga dampak nyata dari inovasi pembelajaran yang telah diimplementasikan di lapangan. Inovasi-inovasi berbasis literasi yang secara masif dikembangkan oleh TBM Akhyar Center diyakini menjadi nilai tambah yang sangat signifikan dalam penilaian tersebut.

Sebagai pemimpin lembaga literasi, kiprah D.A. Akhyar menegaskan bahwa literasi adalah kunci utama untuk membuka gerbang kemajuan peradaban bangsa menuju Indonesia Emas. Gelar prestisius ini dipandang bukanlah sebagai tujuan akhir, melainkan sebuah cambuk semangat untuk terus berbuat lebih banyak bagi dunia pendidikan. Gelar finalis ini juga secara tidak langsung didedikasikan bagi seluruh relawan, pengurus yayasan, serta masyarakat yang tak lelah mendukung gerakan literasi dari desa hingga ke tingkat nasional.

Kabar gembira dari perhelatan Padang International Literacy Festival ini disambut dengan penuh suka cita oleh keluarga besar TBM Akhyar Center dan para pegiat pendidikan luas. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi katalisator yang menginspirasi para guru, santri, dan pemuda lainnya untuk berani berinovasi dan berkarya tanpa henti. Pencapaian ini sekaligus membuktikan bahwa dari sebuah Taman Bacaan Masyarakat, bisa lahir gagasan-gagasan besar yang diakui di panggung nasional dan terintegrasi dengan festival internasional.

Menjelang perhelatan utama pada 27-29 November 2026 nanti, TBM Akhyar Center mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus membumikan kebiasaan membaca dan menulis. Semoga pencapaian luar biasa dari D.A. Akhyar, S.Ud., M.Pd., Gr. ini menjadi langkah awal dari berbagai lompatan besar lainnya dalam upaya mewujudkan generasi penerus yang cerdas, literat, dan berkarakter kuat. Mari bersama-sama menyalakan literasi semesta demi masa depan Indonesia yang lebih gemilang.


Minggu, 18 Oktober 2026

Ketua TBM Akhyar Center Jadi Narasumber dan Penerima Anugerah Guru Inspirator di Universitas Budi Luhur



JAKARTA – Ketua Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center, Dwiki Al Akhyar, S.Ud., M.Pd., Gr., dipastikan akan hadir sebagai salah satu narasumber utama dalam forum pendidikan bergengsi di Universitas Budi Luhur, Jakarta. Kehadiran tokoh penggerak literasi asal Gunung Ibul, Prabumulih ini dijadwalkan akan berlangsung pada tanggal 19 November 2026 mendatang. Undangan istimewa ini diberikan seiring dengan penganugerahan gelar "Guru Inspirator Pendidikan Non Formal" yang diterima oleh Akhyar atas dedikasi dan kiprah nyatanya di tengah masyarakat.

Penghargaan "Guru Inspirator Pendidikan Non Formal" tersebut merupakan bentuk apresiasi tingkat nasional terhadap para pendidik yang berhasil memberikan dampak luar biasa di luar jalur pendidikan formal. Universitas Budi Luhur sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di ibu kota, mengambil inisiatif untuk menghadirkan para penerima anugerah ini ke hadapan para mahasiswa dan civitas akademika. Tujuannya adalah untuk menularkan semangat pengabdian serta membagikan praktik baik yang telah terbukti mampu mengubah wajah literasi di berbagai daerah.

Sosok Dwiki Al Akhyar sendiri telah lama dikenal sebagai aktivis literasi dan pendidik yang tak kenal lelah berinovasi. Selain pengabdian formalnya, inisiatif terbesarnya adalah mendirikan sekaligus memimpin TBM Akhyar Center dan Yayasan Akhyar Bestari Indonesia di Sumatera Selatan. Melalui wadah ini, Akhyar tidak hanya menyediakan akses buku bacaan secara merata, tetapi juga menciptakan berbagai program kreatif yang merangkul anak-anak hingga orang dewasa untuk mencintai dunia literasi secara berkelanjutan.

TBM Akhyar Center di bawah arahannya telah bertransformasi menjadi pusat kegiatan belajar masyarakat yang inklusif dan progresif. Di tempat ini, pendidikan non formal dihidupkan melalui berbagai kelas menulis kreatif, diskusi bedah buku, hingga pemanfaatan media digital untuk menunjang pembelajaran warga sekitar. Konsistensi dalam menjaga dan mengembangkan ruang belajar komunitas inilah yang menjadi landasan utama mengapa sosok Akhyar dinilai sangat layak menerima anugerah bergengsi di bidang pendidikan non formal tersebut.

Dalam sesi panggungnya di Universitas Budi Luhur nanti, Akhyar dijadwalkan akan memaparkan materi strategis mengenai transformasi literasi akar rumput melalui keberadaan taman bacaan masyarakat. Akhyar akan mengupas tuntas bagaimana merintis, mengelola, dan mempertahankan napas sebuah gerakan literasi di daerah agar terus relevan dengan tantangan zaman. Pengalamannya mengkombinasikan metode pendidikan yang interaktif dengan pendekatan sosial kultural diharapkan mampu membuka wawasan baru dan memantik ide kritis bagi para peserta yang hadir.

Menanggapi undangan kehormatan ini, Dwiki Al Akhyar menyampaikan rasa syukurnya yang mendalam dan menegaskan pentingnya kolaborasi. "Penghargaan dan kesempatan berbagi di Universitas Budi Luhur ini bukanlah pencapaian pribadi semata, melainkan kemenangan bagi seluruh relawan dan masyarakat Gunung Ibul yang telah bersama-sama menghidupkan TBM Akhyar Center. Saya berharap panggung ini bisa menjadi pengeras suara bagi gerakan literasi daerah agar gaungnya terdengar dan direspons positif hingga ke level nasional," ungkap Akhyar dengan penuh semangat.

Bagi civitas akademika Universitas Budi Luhur, kehadiran praktisi pendidikan non formal sekelas Akhyar diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung antara teori akademik dan realitas di lapangan. Para mahasiswa, khususnya yang akan terjun ke dunia pendidikan maupun pengabdian masyarakat, akan mendapatkan gambaran langsung mengenai tantangan dan peluang nyata dalam memberdayakan masyarakat. Hal ini sangat sejalan dengan visi dan misi kampus dalam mencetak generasi cerdas berbudi luhur yang tanggap terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.

Ke depan, Akhyar memiliki visi besar untuk terus memperluas jaringan kolaborasi TBM Akhyar Center dengan berbagai pihak lintas sektor, termasuk institusi pendidikan tinggi. Akhyar meyakini bahwa pendidikan non formal bukan sekadar pelengkap sistem pendidikan, melainkan pilar utama dalam membangun fondasi karakter dan literasi bangsa. Momentum kehadirannya di Jakarta pada pertengahan November mendatang akan dimanfaatkannya secara maksimal sebagai titik tolak untuk merajut kemitraan strategis demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Acara penganugerahan dan sesi berbagi kepraktisan baik ini rencananya akan dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, komunitas literasi nasional, hingga para pemangku kebijakan pendidikan. Publik yang ingin menyimak langsung pemaparan Dwiki Al Akhyar dan merayakan pencapaian para guru inspirator ini dapat menantikan rangkaian kegiatannya pada tanggal 19 November 2026 di Universitas Budi Luhur. Informasi lebih lanjut mengenai profil dan kegiatan TBM Akhyar Center juga dapat diakses secara terbuka melalui berbagai kanal media sosial resmi komunitas tersebut.


Minggu, 12 Juli 2026

Trilogi Buku Karya Akhyar untuk Memperkuat Kualitas Pendidik



TBM Akhyar Center -  Akhyar menunjukkan dedikasi tinggi bagi dunia pendidikan melalui berbagai karya nyata. Beliau memimpin TBM Akhyar Center sebagai wadah literasi yang aktif dalam menyebarkan ilmu. Keberadaan pusat kegiatan belajar ini menjadi bukti nyata peran beliau dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Fokus utama beliau adalah menyediakan akses pengetahuan yang luas bagi seluruh lapisan warga.

Kepedulian terhadap profesi pendidik mendorong Akhyar untuk merangkum pengalamannya dalam sebuah karya tulis. Beliau menerbitkan sebuah trilogi buku yang menjadi panduan bagi guru di seluruh penjuru tanah air. Karya ini mencakup tiga judul utama yakni Guru Dedikatif, Guru Inovatif, dan Guru Inspiratif. Ketiga buku ini membahas dimensi berbeda dari peran seorang pengajar di kelas.

Buku pertama berjudul Guru Dedikatif mengupas tuntas tentang arti pengabdian bagi pendidik. Akhyar memaparkan bahwa komitmen menjadi fondasi utama dalam menghadapi setiap tantangan mengajar di sekolah. Fokus pembahasan buku ini terletak pada bagaimana guru tetap teguh menjaga semangat mengajar meski berada di tengah keterbatasan fasilitas. Setiap halaman buku ini mengajak Anda untuk merenungkan kembali alasan dalam memilih profesi sebagai guru.

Bagian kedua dari trilogi ini berjudul Guru Inovatif yang menyoroti pentingnya kreativitas dalam ruang kelas. Akhyar menjelaskan berbagai metode pengajaran baru agar materi yang disampaikan mudah diserap oleh siswa. Beliau menekankan bahwa guru harus beradaptasi dengan perubahan zaman melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Buku ini berfungsi sebagai panduan praktis bagi guru dalam merancang kurikulum yang menarik bagi peserta didik.

Trilogi ini dilengkapi dengan buku ketiga yang berjudul Guru Inspiratif untuk menutup rangkaian panduan tersebut. Akhyar menaruh perhatian besar pada kemampuan guru dalam memberikan pengaruh positif bagi perkembangan karakter siswa di masa depan. Beliau percaya bahwa seorang guru berperan mentransfer ilmu pengetahuan serta menanamkan nilai moral dan etika yang kuat. Buku ini memberikan banyak contoh mengenai cara menjadi sosok yang mampu memotivasi siswa untuk terus berkarya.

Penerbitan trilogi ini memberikan dampak positif bagi para pendidik yang tergabung dalam jaringan TBM Akhyar Center. Para guru kini memiliki referensi nyata dalam memperbaiki cara mereka mengajar dan berinteraksi dengan siswa di sekolah. Akhyar rutin mengadakan diskusi bedah buku untuk memperdalam pemahaman mengenai isi dari karya tersebut. Kegiatan ini membantu para pendidik saling berbagi pengalaman dan mencari solusi atas kendala yang dihadapi di lapangan.

Filosofi literasi yang tertuang dalam buku buku tersebut sejalan dengan visi TBM Akhyar Center dalam memajukan pendidikan. Akhyar ingin memastikan bahwa setiap orang mendapatkan akses ilmu yang berkualitas melalui budaya membaca yang kokoh. Beliau membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung antara rumah dan sekolah. Keberadaan buku ini memperkuat peran TBM sebagai pusat rujukan literasi bagi guru dan orang tua.

Kontribusi Akhyar dalam dunia literasi mendapat sambutan baik dari para penggiat pendidikan di berbagai daerah. Banyak guru yang merasa terbantu dengan ide ide praktis yang dituangkan dalam trilogi buku tersebut. Langkah ini merupakan wujud kepedulian beliau terhadap kualitas pendidikan yang lebih baik di masa depan. Beliau berharap karya tulisnya dapat menjadi sumber inspirasi bagi pendidik lain agar terus bergerak maju.

Perjalanan Akhyar dalam dunia literasi tidak berhenti pada peluncuran buku saja. Beliau terus mengamati perkembangan dunia pendidikan dan berusaha memberikan kontribusi melalui berbagai program TBM. Fokus utamanya tetap pada pengembangan kapasitas guru agar tercipta generasi muda yang cerdas dan berkarakter. Dedikasi ini mencerminkan semangat berbagi ilmu yang konsisten beliau lakukan setiap hari.


Akhyar Berbagi Strategi Literasi di Temu Pendidik Nusantara Pagar Alam





TBM Akhyar Center - Ketua TBM Akhyar Center hadir sebagai pembicara pada ajang Temu Pendidik Nusantara Kel XIII di Pagar Alam. Kehadiran beliau memberikan warna baru dalam diskusi mengenai literasi di daerah. Peserta menyambut hangat materi yang disampaikan karena relevan dengan tantangan pendidikan saat ini.

Dalam sesi tersebut, beliau menekankan pentingnya membangun budaya baca sejak dini. Akhyar menjelaskan bahwa buku harus menjadi teman akrab bagi anak remaja di rumah. Akses terhadap bahan bacaan berkualitas menjadi kunci utama untuk membuka wawasan mereka.

Beliau juga berbagi pengalaman nyata dalam mengelola taman bacaan selama ini. Tantangan terbesar bukan pada kurangnya minat, melainkan pada cara penyajian literasi yang kurang menarik. Strategi yang tepat akan membuat anak remaja merasa bahwa membaca adalah bagian dari gaya hidup.

Kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi poin penting yang beliau soroti. Guru dan orang tua perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung aktivitas membaca. Beliau mengajak para pendidik untuk lebih kreatif dalam merancang kegiatan literasi yang menyenangkan.

Materi yang disampaikan juga menyentuh aspek penggunaan teknologi yang bijak. Akhyar mengingatkan bahwa gawai bisa menjadi pendukung literasi jika diarahkan dengan benar. Anak remaja membutuhkan pendampingan agar mereka mampu memilah informasi yang bermanfaat.

Diskusi interaktif terjadi saat sesi tanya jawab berlangsung dengan penuh semangat. Banyak pendidik yang menceritakan kendala mereka di lapangan saat membimbing anak remaja. Akhyar memberikan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh para guru di sekolah masing masing.

Pengalaman beliau dalam mendampingi remaja menjadi nilai tambah dalam pemaparan tersebut. Beliau memahami bahwa pendekatan yang kaku tidak akan berhasil pada usia ini. Akhyar menyarankan untuk memberikan ruang bagi anak remaja dalam memilih bacaan mereka sendiri.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pemantik semangat bagi pegiat literasi di Pagar Alam. Beliau berharap langkah kecil yang dimulai dari taman bacaan dapat membawa perubahan besar bagi pendidikan daerah. Semangat berbagi menjadi modal utama untuk terus bergerak maju ke depan.

Temu Pendidik Nusantara di Pagar Alam ditutup dengan komitmen bersama untuk meningkatkan literasi. Akhyar merasa puas karena banyak pendidik yang antusias untuk menerapkan ide tersebut. Langkah nyata setelah acara ini menjadi harapan bagi kemajuan anak bangsa di masa mendatang.

Minggu, 07 Juni 2026

Guru sebagai Narasumber dan Perancang Pembelajaran Literasi Anak yang Kreatif di Era Protean


TBM Akhyar Center - Perubahan peran guru dalam ekosistem pendidikan modern tidak lagi terbatas pada aktivitas mengajar di ruang kelas. Guru kini dapat bertransformasi menjadi narasumber, perancang kegiatan, sekaligus penggerak literasi di komunitas. Pengalaman sebagai guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus pendiri Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Akhyar Center menunjukkan bahwa praktik pembelajaran yang lahir dari kelas dapat berkembang menjadi model kegiatan literasi yang lebih luas dan berdampak bagi masyarakat.

Dalam berbagai kegiatan di komunitas literasi, saya sering diundang sebagai narasumber untuk merancang pembelajaran kreatif bagi anak-anak. Fokus utama bukan hanya pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi juga pada pembentukan cara berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran lingkungan. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan kemampuan memahami realitas, menafsirkan informasi, dan mengambil keputusan yang bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bentuk kegiatan yang sering saya kembangkan adalah pembelajaran literasi berbasis pengalaman nyata. Anak-anak tidak hanya membaca teks, tetapi juga diajak mengamati lingkungan sekitar, berdiskusi tentang fenomena sosial, serta menulis kembali pengalaman mereka dalam bentuk cerita reflektif. Misalnya, dalam kegiatan literasi lingkungan, anak-anak diajak mengamati sungai, jalan raya, atau ruang publik, kemudian mendiskusikan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Dari sana, mereka belajar menghubungkan teks dengan konteks kehidupan nyata.

Peran sebagai narasumber dalam komunitas literasi juga menuntut kemampuan merancang kegiatan yang adaptif. Setiap komunitas memiliki karakteristik peserta yang berbeda, baik dari segi usia, latar belakang sosial, maupun tingkat literasi. Oleh karena itu, desain kegiatan harus fleksibel namun tetap memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Saya biasanya menggunakan pendekatan berbasis pertanyaan terbuka, diskusi reflektif, dan aktivitas kolaboratif agar peserta aktif membangun pemahaman mereka sendiri.

Tantangan utama dalam peran ini adalah menggeser paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada pengajar menjadi berpusat pada pengalaman peserta. Banyak kegiatan literasi masih cenderung bersifat instruktif, di mana anak-anak hanya menerima informasi tanpa kesempatan untuk mengeksplorasi dan menafsirkan. Untuk mengatasi hal ini, saya merancang aktivitas yang memberi ruang bagi peserta untuk bertanya, mengamati, dan menyimpulkan sendiri hasil pembelajaran mereka.

Selain itu, keterbatasan sumber daya di komunitas literasi juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua kegiatan dapat didukung dengan media pembelajaran yang lengkap. Oleh karena itu, saya memanfaatkan pendekatan literasi kontekstual, yaitu menggunakan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar utama. Hal ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih relevan, tetapi juga lebih mudah diterapkan oleh komunitas dengan berbagai kondisi.

Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, kegiatan literasi ini juga menjadi sarana internalisasi nilai-nilai akhlak. Anak-anak diajak memahami pentingnya kejujuran dalam menyampaikan informasi, tanggung jawab dalam bertindak, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Dengan demikian, literasi tidak hanya menghasilkan kemampuan kognitif, tetapi juga membentuk karakter yang seimbang antara pengetahuan dan nilai moral.

Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa guru memiliki potensi besar untuk berkembang dalam karier protean, yaitu karier yang fleksibel, dinamis, dan terus berevolusi sesuai dengan pengalaman dan kontribusi nyata. Menulis, merancang kegiatan, dan menjadi narasumber merupakan bagian dari satu kesatuan peran yang saling menguatkan. Praktik di kelas menjadi dasar, sementara komunitas menjadi ruang perluasan dampak.

Pada akhirnya, transformasi guru menjadi narasumber dan perancang kegiatan literasi menunjukkan bahwa pembelajaran tidak memiliki batas ruang. Apa yang dimulai dari catatan sederhana di kelas dapat berkembang menjadi model pembelajaran kreatif yang menginspirasi banyak komunitas. Di titik inilah peran guru melampaui sekadar pengajar; ia menjadi arsitek pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir generasi muda dalam memahami dunia secara lebih kritis, reflektif, dan bermakna.

Selasa, 06 Januari 2026

Pendiri TBM Akhyar Center Raih Guru PAI Inovatif Terbaik I Nasional Kemenag RI



TBM Akhyar Center - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dunia pendidikan Sumatera Selatan. Pendiri TBM Akhyar Center, sekaligus Wakil Ketua Guru Kreator Konten Sumatera Selatan dan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) berdedikasi, Dwiki Al Akhyar, S.Ud., M.Pd., Gr., berhasil meraih penghargaan Guru PAI Inovatif Terbaik I Nasional Tahun 2025 dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2025 yang berlangsung khidmat di Sasana Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (6/12). Pengakuan ini menjadi bukti nyata apresiasi negara terhadap guru yang berkontribusi aktif dalam transformasi pendidikan agama Islam berbasis inovasi dan literasi digital.

Akhyar dikenal luas sebagai pendidik inovatif yang secara konsisten menghadirkan pembelajaran PAI yang kreatif, kontekstual, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu inovasi unggulannya adalah Aplikasi Akhyarpedia, sebuah platform pembelajaran digital yang mengintegrasikan materi keislaman, penguatan karakter, serta pendekatan pedagogis yang ramah generasi digital. Inovasi ini dinilai mampu menjembatani nilai-nilai substansial ajaran Islam dengan realitas kehidupan peserta didik masa kini.

Sebagai pendiri TBM Akhyar Center, Akhyar juga berperan aktif dalam mengembangkan budaya literasi, pendidikan karakter, dan penguatan nilai keislaman melalui berbagai program berbasis komunitas. TBM Akhyar Center menjadi ruang alternatif pembelajaran yang menggabungkan literasi baca-tulis, literasi digital, serta nilai-nilai Islam moderat yang inklusif dan menyejukkan.

Di tingkat regional, Akhyar mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Guru Kreator Konten Sumatera Selatan. Melalui peran ini, ia mendorong para guru untuk bertransformasi menjadi kreator konten edukatif, tidak hanya sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai agen literasi digital dan penyebar pesan keislaman yang rahmatan lil ‘alamin di ruang publik digital.

Beragam karya digital yang dihasilkan Akhyar—mulai dari aplikasi pembelajaran PAI, konten refleksi keagamaan, hingga materi penguatan karakter—telah menjangkau audiens yang luas. Inovasi-inovasi tersebut dinilai mampu meningkatkan minat belajar siswa, memperkuat internalisasi nilai moral, serta memperluas dampak pendidikan agama Islam di era digital.

Dalam keterangannya, Akhyar menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi dan dukungan banyak pihak. Ia menegaskan bahwa inovasi dalam pendidikan agama Islam bukan sekadar mengikuti tren, melainkan ikhtiar untuk menghadirkan ajaran Islam yang membumi, relevan, adaptif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur ajaran Islam.

Melalui penghargaan Guru PAI Inovatif ini, Kementerian Agama RI menegaskan komitmennya dalam mendorong peningkatan kualitas, kreativitas, dan profesionalisme guru PAI di seluruh Indonesia. Guru dipandang tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai penggerak nilai, pembentuk karakter, dan penopang peradaban.

Prestasi yang diraih pendiri TBM Akhyar Center ini mendapatkan apresiasi luas dari berbagai kalangan pendidikan di Sumatera Selatan. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa guru daerah mampu menunjukkan kapasitas unggul, daya saing nasional, serta kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan Indonesia.

Ke depan, prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak guru untuk terus belajar, berinovasi, dan berkarya. Sosok Akhyar menjadi representasi guru PAI yang adaptif, visioner, dan berkomitmen menghadirkan pendidikan bermakna di tengah dinamika zaman.

© Copyright 2019-2026 TBM Akhyar Center | All Right Reserved